Mengenang Pater J.I.G.M. Drost, SJ

About Pater Drost: an article by Yosef Djakababa (Gonzaga alumnus, 1992)

Saya mendengar kabar kepergian beliau pada tanggal 19 Februari 2005 malam, melalui sebuah pesan singkat yang dikirmkan langsung kepada saya oleh seorang kawan. Tak lama kemudian saya pun menerima kurang lebih sekitar 5-6 sms yang memberi kabar yang sama. “Pater Drost SJ wafat pada tanggal 19 Februari 2005 pk 16:15 di RS.Elizabeth Semarang. Beliau akan dimakamkan di Girisonta tanggal 21 Februari 2005 Pk 10.00, mohon doanya untuk beliau” Begitulah kira-kira isi pesan singkat yang saya terima.

Mungkin tidak banyak orang yang tahu mengenai siapa itu Pater Drost, tetapi hampir semua orang yang berkecimpung di dalam bidang pendidikan atau pernah menjadi murid, guru maupun rekannya baik di IKIP Sanata Dharma (Rektor 1968-1976), SMA Kanisius (Direktur 1977-1987), SMA Gonzaga dan Seminari Wacana Bhakti ( Kepala Sekolah dan Rektor 1987-1993) semua tahu dan mengenal sosok manusia yang keras, tegas tapi juga senang bercanda itu.

Sudah dua hari belakangan ini di Harian Kompas edisi 20 Februari dan 21 Februari 2005 memuat obituari mengenai Pater Drost yang isinya mengenai kiprahnya sebagai pemerhati dan ahli masalah pendidikan di negeri kita ini. Dalam tulisan ini saya ingin membagi kenangan saya atas Pater Drost berdasarkan pengalaman saya mengenal beliau sebagai salah satu muridnya.

Saya pertama kali tahu dan mengenal nama beliau ketika saya bersekolah di SMP Kanisius Menteng tahun 1986. Pada saat itu Pater Drost menjabat sebagai direktur SMA Kanisius. Sosoknya yang tinggi dan “bule” itu berjalan dengan tegap di lorong SMP- maupun SMA Kanisius, tidak dapat dipungkiri dia adalah seorang sosok yang penuh otoritas, kelihatan galak tapi juga berwibawa pada saat yang sama. Beliau pernah “ngamuk” kepada redaktur majalah Canipress (majalah sekolah SMA Kanisius) yang memuat sebuah artikel profil mengenai dirinya dan di dalam artikel itu ada kesalahan cetak yang mengatakan Pater Drost lahir negeri Belanda. Ucapan beliau waktu itu di kantor moderator ” Mana itu anak-anak Canipress, saya mau labrak semua mereka itu, saya tidak pernah lahir di negeri Belanda!” dan pada edisi Canipress yang berikut sudah ada ralat dari redaktur mengenai kesalahan informasi itu.

Kenangan saya terhadap beliau yang paling mengesankan adalah pada saat saya mau melanjutkan SMA. Karena jasa beliau lah saya akhirnya dapat melanjutkan sekolah di SMA Gonzaga bersama dengan sejumlah besar alumni SMP Kanisius yang ditolak oleh SMA Kanisius tidak lama setelah Pater Drost dipindahkan ke SMA Gonzaga.

Saya pergi menghadap beliau dan pada awalnya dia menolak saya, “Maaf sekali saya tidak bisa menerima anda, saya sudah tutup lubang terakhir tadi pagi tidak ada tempat sama sekali buat anda di Gonzaga”, tetapi kemudian beliau bertanya lagi, “Kamu dari SMP mana?” saya jawab, “Kanisius, menteng”, “NEM kamu berapa”, saya pun menjawab. Detik itu pula Pater langsung mengubah keputusannya, “Kamu dari Kanisius, dan nilai kamu lebih dari cukup dan kamu ditolak di sana?!? ya sudah kamu sekolah disini saja!” Kemudian beliau melanjutkan, “Keterlaluan sekali kamu dan teman- teman kamu tidak diterima (di Kanisius)! Kalau saya masih disana kamu semua pasti saya terima!” Keputusan Pater Drost itulah yang membuat saya teringat terus dan berhutang budi kepada beliau karena tanpa beliau saya terancam tidak bisa melanjutkan pendidikan ke SMA.

Sewaktu SMA, kami semua memanggil beliau dengan sebutan “Babe”. Kalau “Babe” sudah muncul di ujung lapangan, walaupun hanya berdiri saja tanpaa berkata apa-apa dan hanya menatap ke arah kami yang sedang duduk-duduk di depan Hall Basket, serta merta kami semua akan “kabur” ke depan sekolah sambil berkata, “Babe..babe..babekabur-kabur..!” Sebegitu besar nya wibawa beliau, sampai-sampai hanya dengan melihat sosoknya dari kejauhan kami semua pun tidak berani duduk-duduk dan nongkrong. Karena memang beliau sama sekali tidak senang melihat siswa-siswanya hanya duduk-duduk saja setelah pulang sekolah. Dia biasanya akan berjalan ke depan sekolah dan mengusir anak-anak agar pulang. “Ayo pulang kamu semua! Ngapain nongkrong2 aja”

Sikap Pater Drost ini sejalan dengan keyakinannya yang dia tuangkan di dalam bukunya yang berjudul “Proses Pembelajaran Sebagai Proses Pendidikan.” Disitu dia mengungkapkan:
“Proses pendidikan sebagai proses pembentukan merupakan proses informal.Tidak ada pendidikan formal, karena tidak mungkin. Seluruh proses pemuliaan,ialah pembentukan moral manusia muda hanya mungkin lewat interaksi informal antara dia dan lingkungan hidup manusia muda itu. Jadi, kesimpulan yang paling mendasar ialah bahwa lembaga pertama dan utama pembentukan dan pendidikan adalah keluarga.”
(J.Drost SJ, “Proses Pembelajaran Sebagai Proses Pendidikan” hal.1-2 , 2003)

Saya pun ingat dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain yang lebih panjang waktu sekolahnya dan lebih banyak kegiatan sampai dengan sore hari, pada saat itu di Gonzaga hanya tiga hari dalam seminggu (7 hari) kami masuk pukul 07:00- 12:45, sisanya kami bersekolah dari jam 07:00-12:00 siang. Karena Pater Drost sangat mementingkan peran keluarga dalam pendidikan dan pembentukan seseorang.

“Mengenai sekolah perlu dinyatakan bahwa sekolah yang mengharuskan anak tinggal di sekolah dari pagi sampai sore hari salah. Ini berarti mengambil alih dari orang tua apa yang tidak boleh diserahkan begitu saja, yakni pendidikan dalam keluarga.” (Ibid., p.21)

Kemudian beliau melanjutkan:
“Sekolah bukan pengganti orang tua, melainkan pembantu mereka. Ini berarti bahwa sekolah harus menentukan kebijakan bertindak setelah mendengarkan orang tua.” (ibid.)

Di dalam khotbahnya hari ini, Pater Heru, kepala Sekolah SMA Gonzaga yang memimpin misa mengenang Pater Drost, dia menyampaikan salah satu keinginan beliau yang tidak kesampaian yaitu untuk dirinya meninggal di Kolese Gonzaga, tempat yang dia bangun, pimpin, cintai dan rintis. Tempat dimana dia merasa kerasan karena beliau dekat dengan para siswa, guru-guru, alumni dan juga sebagai tempat dimana beliau benar-benar pertama kali memulai dan membangun suatu institusi pendidikan dari awal dan kemudian dia kembangkan untuk memberikan pendidikan yang terbaik kepada semua siswa dan guru-gurunya itu.

Pak Agus Dewa kemudian meminta supaya alumni Gonzaga turut melobi pihak sekolah untuk meminta aula seminari Wacana Bhakti diganti namanya menjadi “Aula J.Drost SJ.” Saya kira permintaan ini tidak berlebihan untuk menunjukkan rasa hormat dan penghargaan atas jasa-jasa beliau yang tidak ternilai sebagai sesepuh, pendiri dan peletak dasar pendidikan di Kolese Gonzaga.

Seorang siswa Gonzaga bertanya kepada saya dan seorang rekan alumni selepas misa tadi. “Pater Drost itu orangnya itu bagaimana sih?”, “Saya dan teman menjawab, ” Pada saat itu kami sangat segan dan bahkan melihat dia sebagai sosok yang galak karena sering dimarah-marahi, tetapi di kemudian hari baru kami mengerti sikapnya itu adalah untuk kebaikan kami sendiri.”

Selamat Jalan Pater Drost, terima kasih untuk semua karya dan bimbingan mu kepada kami. Beristirahatlah dalam damai.

Yosef Djakababa
Alumni Kolese Gonzaga angkatan III th.1992

3 thoughts on “Mengenang Pater J.I.G.M. Drost, SJ

  1. hiks!! trenyuh terharu dan nglangut deh gue…
    sebenernya udah beberapa tahun ini dia sakit, but still I'm not ready to hear the news..
    jadi inget dia pernah omong gini:
    “kalian semua libur sana!
    rapor dibagi seusai liburan, supaya semua bisa berlibur dengan rasa senang”

    *La.. ketemu si Yoseph Djakababa di mana? salam ya dari gweh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s