Hal Mengasihi

Tanggal 7 April kemarin, Oma (dari pihak nyokap) berulangtahun ke 91 (wow!). Agak beda dari nenek-nenek lainnya di dunia ini, Oma masih cukup aktif, contohnya:
~ masih bisa jalan sendiri walaupun karena tubuhnya bungkuk dan peredaran darah di kakinya sudah tidak lancar, kadang-kadang jadi harus pakai kursi roda kalau kita pergi makan ke luar (favoritenya adalah salad bar di American Grill, formerly known as Sizzler, di PI Mall).
~ masih baca dan malah langganan majalah Femina
~ masih suka masak dan mencoba menu baru. Yang ada, anak-cucu-cicitnya yang timbangannya naik semua. Abis enak-enak sih, mulai dari erten soup (sup kacang polong), sup labu kuning, salad, macaroni panggang, pisang goreng kismis, lasagna bayam, spekuk (spice cake), dll, dll. Kalo ngomongin makanan nggak akan ada abis-abisnya deh! Apalagi pas gue kuliah di Bandung, jatah gue semua tuh!
~ masih menjahit, menyulam, mengristik, dan membuat aplikasi. Tas-tasnya laku keras, sarung-sarung bantalnya jadi incaran.

Jujur, gue kagum banget sama ke-serbabisa-an dan ke-serbamasih-an Oma. Hari gini, gitu loh, anak-anak umur 19 tahun aja gue yakin jarang yang pernah pegang jarum sama benang. Ya gak sih?

Anyway, sejak sekitar tahun 1999, setelah gue lulus kuliah, Oma pernah jatuh dan berjam-jam nggak ada yang nolongin karena beliau tinggal sendirian di rumah peninggalan Opa (rumah dosen ITB, lebih tepatnya) di Jl Progo, Bandung. Hanya Kuasa Tuhan maka Oma sampai hari ini masih hidup, sehat, dan masih boleh berada di antara keluarganya. Tapi sejak kejadian itu, anak-anaknya memutuskan Oma harus dibawa ke Jakarta. Gue tau dia pasti sedih dan berat meninggalkan rumah di Bandung dan segala kenangannya, tapi beliau toh ‘nurut juga. Rumah di Bandung dijual, dan Oma pun hijrah ke Jakarta, tinggal di rumah Oom & Tante gue (kakak tertua nyokap) di Kebayoran Baru.

Entah karena sudah semakin tua, atau ini sifat yang baru keliatan sekarang sama kita-kita, yang pasti ada satu hal yang sering membuat gue jadi kepikiran dan sedih. Di balik segala “kehebatan” beliau yang gue kagumi dan gue teladani, kenapa ya Oma senang membenci orang? Gue bilang “senang” karena bukan kekerapannya yang ingin gue tekankan, tapi seakan-akan itu adalah suatu hal yang wajar dan sah-sah aja. Gue bilang “benci” juga karena ini adalah kata yang benar-benar diucapkan oleh beliau kalau sedang menceritakan orang-orang tertentu. Akar kebencian ini kadang-kadang sangat sepele, tapi karena disayang-sayang dan diingat-ingat terus, maka tumbuh menjadi besar. Kadang-kadang juga cuma buah dari pikirannya sendiri, karena Oma kurang pendengarannya. Parahnya lagi, beliau semakin menjadi-jadi ketika mendapatkan “pembenaran” dari salah satu artikel di Femina bahwa kita boleh membenci seseorang. Gue memang nggak baca artikelnya, tapi masa siiih? Kalau boleh kesal atau sebal, mungkin gue masih percaya deh. Tapi benci?

Gue kerap teringat dengan salah satu ayat Alkitab yang sudah jadi ungkapan umum, yaitu: “Kasihilah musuhmu.” Waktu ABG (jelas pada saat itu gue jarang-jarang baca Al-Qur’an atau Alkitab, kecuali pas kebaktian di sekolah hehehe), gue pertama kali dapet pencerahan tentang ini dari bokap gue. Dia sih bilangnya “Kalo ada yang jahat sama kamu, jangan bales dengan benci juga. Orang seperti itu patut dikasihani.” Gue pikir, iya juga sih… Walaupun kesannya keren, gitu, bisa membenci seseorang (kan kesannya jadi punya power tuh), gue pikir-pikir kasihan juga tu orang karena they don’t know better! Contoh gampangnya aja: ngapain juga buang-buang energi buat mikirin orang yang kita “benci” sementara yang dibenci nggak mikirin loe. Ih, kasian deh! :p

Gue dan keluarga besar nyokap kayaknya udah keabisan akal deh mesti ngomong gimana sama Oma. Salahkan Femina karena memberi contoh yang tidak baik! Hehe… Nggak juga sih, abis kalopun kita nyuruh pendeta untuk ngomong ke dia, wong ada juga pendeta yang dia sebelin karena dia kasih kerajinan tangan buatan dia tapi sekalipun nggak pernah nelpon untuk bilang makasih! Wadoooohhhh…

“Ironis”-nya, hari Minggu kemarin pas kebaktian, khotbahnya PAS banget. I wish my Grandma heard it! Gue lupa tepatnya ayat yang jadi dasar khotbah kemarin (1 Yohanes something), tapi intinya: “Kalau kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, maka sama saja kita masih hidup di dalam maut”. Whoa! Serius… Jadi percuma aja kalo bilang kita nerima Yesus sebagai Penebus Dosa yang meloloskan kita dari Maut, karena kalo kita masih hidup seperti itu (tidak mengasihi orang lain), kondisi kita nggak ubahnya dengan manusia-manusia yang belum ditebus. Wah, ini artinya gue dan kita semua harus introspeksi besar-besaran terhadap cara kita mengasihi orang lain.

Nah, menurut pendeta yang berkhotbah, ada 4 ciri-ciri kasih Agape, yaitu:
1. COMPASSION: mengerti dan mengasihi saat seseorang sedang dalam keadaan sakit atau kesusahan, bahkan jika kita tidak mengenalnya. Yang penting adalah niat kita untuk menolong, bahkan kalau yang bisa kita lakukan hanyalah mendengarkan dan mengucapkan kata-kata yang baik. Memaafkan kesalahan orang lain, dan menjadi teman saat seseorang membutuhkan seseorang sebagai temannya.
2. CONSIDERATION: dalam bahasa Indonesia disebut tenggang rasa, yaitu memikirkan orang lain dan perasaan mereka. Kita juga mempertimbangkan bagaimana perbuatan kita membawa dampak pada orang lain. Kita memperhatikan apa yang disukai dan tidak disukai orang lain, dan melakukan hal-hal yang membuat mereka bahagia.
3. CARING: mencurahkan kasih sayang dan perhatian kepada orang atau apapun yang berarti untuk kita. Saat kita peduli dengan orang lain, kita membantu mereka. Lakukan pekerjaan kita dengan hati-hati, kerahkan kemampuan terbaik kita. Perlakukan orang dan benda-benda dengan lembut dan penuh hormat. Saling peduli menjadikan dunia ini tempat yang lebih aman.
4. COMMITMENT: komitmen berarti memutuskan dengan seksama apa yang akan kita lakukan dan mengabdikan 100% diri kita kepadanya, baik kepada orang lain, pekerjaan, dll. Selesaikan semua pekerjaan yang sudah kita mulai, dan pegang janji yang sudah kita buat.

Karena Tuhan mengasihi kita bukan karena kita yang terlebih dahulu mengasihi Dia, tetapi karena Dia mengasihi makhluk-makhluk ciptaanNya. Walaupun kita ini sering berbuat dosa, Tuhan tetap mengasihi kita karena yang menjadi fokus kasih sayangNya adalah diri kita, bukan perbuatan kita. Kalau Tuhan saja tetap melayakkan kita, apa pantas kita membenci sesama manusia hanya karena pada suatu saat mereka melakukan kesalahan??? Oleh karena itu, dalam hal mengasihi, nggak ada yang lebih cocok untuk mulai duluan selain kita sendiri.

2 thoughts on “Hal Mengasihi

  1. Orang semakin tua akan semakin tersaaturasi, s3emakin kental segala2nya..
    boh ya benci, sebel, kesel, emosi, sayang, cinta, minta dipedulikan, dll..

    So, biarkan saja, karena itu bagian dari sikap, dan bukan sifat..

    *Still there, still doing that..*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s