Kasus GKI Ciledug Raya Diselesaikan Malam Ini

Seperti juga post sebelumnya mengenai penutupan gereja di beberapa tempat di Indonesia, kasus yang satu ini, setahu gue, is the most recent. Gue tidak akan banyak berkomentar dulu, hanya saja ada dua hal yang ingin gue garisbawahi di artikel ini, yaitu masalah kristenisasi dan masalah ketergangguan.

Seorang teman yang mengirimkan artikel ini ke gue mempertanyakan apakah kita bisa menghindari jika banyak orang pindah agama setiap harinya (dari A ke B, B ke A, A ke C, dst)? Menurut gue, agama is a very personal thing (and choice, for that matter). Jadi di kala seseorang memutuskan untuk pindah ke agama lain, apakah pantas kita menuduh agama lain itulah yang membuat orang tersebut pindah agama? Kasarnya, emangnya orang itu sendiri gak bisa mikir dan gak punya nurani, sampe bisa pindah agama segampang itu? Ya enggaklah, give a little credit gitu lho… Kalo emang udah pilihan dia, kenapa kita yang sewot coba?😀 Nah, artikel di bawah ini menurut gue sedikit banyak mencerminkan ketakutan yang kurang beralasan (yang menurut gue lebih berdasarkan pada ketidaktahuan) terhadap keberadaan agama lain. Hey, it’s a religion. Not a disease!😉

Teman yang sama juga mengeluhkan masalah “ketergangguan”. Jika keberadaan sebuah gereja yang notabene “cuma” paling aktif di hari Minggu, dianggap mengganggu, apakah sebaliknya umat agama lain boleh memprotes suara2 dari mesjid yang disiarkan melalui toa, 5x sehari, plus jumat, plus pada saat pengajian? Jawaban klasik adalah, majority wins. My answer? TOLERANCE.

Enjoy.

Spot News: Senin, 29 Agustus 2005

Kasus GKI Ciledug Raya Diselesaikan Malam Ini
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
JAKARTA Keberatan massa yang menamakan diri warga Kelurahan Larangan Utara atas keberadaan GKI Ciledug Raya di Gedung Pertemuan Damai Jl. HOS Cokroaminoto, Ciledug Raya, Tangerang, akan diselesaikan dalam pertemuan bersama, Senin (29/8) pukul 19.00 WIB malam ini.

Saat ditemui Tempo di lokasi pada Minggu (28/8) malam, salah seorang pengurus gereja Marthen K. Patiung menjelaskan sejarah keberadaan GKI Ciledug Raya di kawasan itu. Marthen menunjukkan SK Departemen Agama Kanwil Banten No. Kw. 28/I/BA-01.1/953/2004 tertanggal 30 November 2004 tentang pendaftaran tempat ibadah GKI Ciledug Raya yang ditandatangani Kepala Bimas Kristen Banten Ny. Youke K. Singol.

Selain itu, ia juga memperlihatkan Rekomendasi Depag pusat dengan No. Set. DI. III/BA.04/733/4398/2004 tertanggal 11 November 2004 yang ditandatangani Sekretaris Dirjen Bimas Kristen S.P. Suripatty, S.Th.

Dalam surat itu dijelaskan mengenai ijin pengalihan dan kepindahan tempat ibadah GKI Ciledug Raya dari Seskoal Cipulir ke Gedung Damai di Jl. HOS Cokroaminoto 3. Kami baru dua bulan melangsungkan ibadah di Gedung Damai, setelah sejak 1994 melangsungkan kegiatan gereja di Seskoal, kata Marthen.

Marthen berkisah, sekitar 10 tahun lalu, gerejanya membeli tanah seluas 4200 m” di Jl. HOS Cokroaminoto 3, Ciledug Raya. Mulanya, kami ingin mendirikan gereja di tanah ini. Tapi ijinnya begitu sulit, katanya.

Lalu, pada 1999, jemaat gereja ini membeli rumah toko (ruko) seluas 400m” yang terletak persis di depan tanah itu. Awalnya, bangunan ruko itu merupakan sebuah percetakan yang menjadi korban penjarahan pada Kerusuhan Mei 1998. Kami membelinya seharga Rp 125 juta, kata anggota Majelis bidang Penatalayanan itu.

Jemaat gereja kemudian mengalihnamakan gedung itu, lengkap dengan mengurus IMB baru dan merenovasinya. Baru pada Juni lalu, jemaat GKI Ciledug Raya resmi beribadah di Gedung Damai itu. Sehari-harinya, gereja ini dijaga Yudo, pengurus gereja yang tinggal di rumah pastori dalam komplek tanah itu.

Marthen menjelaskan, pada Rabu (10/8) lalu, pihak gereja mendapat undangan dari pengurus kampung untuk membicarakan tentang keberatan penggunaan gedung serba guna itu sebagai gereja. Karena alasan warga Larangan mayoritas beragama lain dan takut terjadi kristenisasi, kami diminta pindah. Kami tak mau, karena sebelumnya telah mendapat persetujuan 50 orang warga sekitar gedung yang menyatakan tak keberatan atas penyelengaraan peribadahan di sini, katanya. Meski di-deadline segera menghentikan kegiatan pada minggu ini, kemarin jemaat GKI Ciledug Raya tetap beribadah seperti biasanya, yakni pada jam kebaktian pukul 09.00 WIB. Masak menghadap Tuhan tidak boleh kata Marthen.

Saat itulah, sekitar 40 warga menunggu di luar gereja, termasuk Kapolsek Ajun Komisaris Polisi Sutarto serta perangkat Babinsa lainnya. Dari pengamatan Josapat Lumban Batu, petugas keamanan gereja, mayoritas orang yang datang itu berasal dari luar kampung Larangan. Hanya empat orang yang berasal dari sini. Sisanya dari daerah dengan radius antara 700 meter-1 kilometer, katanya. Massa tidak memakai dan mengatasnamakan kelompok tertentu.

Seusai ibadah dilaksanakan, tujuh perwakilan massa menemui pengurus gereja untuk kemudian berunding bersama di ruang tamu rumah pastori di belakang gereja. Jadi tidak benar ada sekelompok orang yang masuk dan membubarkan kebaktian, kata Marthen.

Pembicaraan yang dihadiri Lurah Larangan Utara Mansyur Maulana itu menyatakan bahwa persoalan ini akan diselesaikan pada Senin (29/8) di balai pertemuan kelurahan, Jl. Ciledug Raya. Tak ada titik temu dalam pembicaraan tadi. Kami sepakat mencari solusinya pada malam ini, ungkapnya.

Dalam pertemuan malam ini, pihak gereja berjanji akan datang full team, termasuk Pdt. Ny. Marvan Risa Kahutamata dan pengurus lainnya. Saat massa mendatangi gereja Minggu pagi kemarin, Marvan Risa sedang melakukan pelayanan ibadah di tempat lain. Saat itu ibadah dipimpin oleh pendeta tamu Pdt. Dianawati S. Yuangga dari GKI Kavling Polri, Jakarta Barat.

Marthen membantah kabar yang beredar via pesan pendek (sms) berantai yang menyatakan ada pengepungan di gereja malam itu. Tempo juga menerima sms itu yang berbunyi, SMS jam 19.12: Dear all, mohon dukungan doa untuk GKI Cileduk Raya krn massa sdng mengepung gereja & pendeta serta majelis2 msh berada didlm gereja. Tx.GBU.

Wasekum PGI Pdt. Weinata Sairin, M.Th mengaku mendapat sms yang sama sampai lima kali. Meski belum mengecek kebenaran informasi itu, Weinata menentang perbuatan anarkisme yang menghalangi kegiatan peribadahan di gereja. Pemerintah tak boleh terus membiarkan hal ini terjadi, katanya saat dihubungi Tempo, Minggu (28/8) malam.

Jojo Raharjo

35 thoughts on “Kasus GKI Ciledug Raya Diselesaikan Malam Ini

  1. Masalahnya banyak:
    1. sistem misionari yg kadang suka diakalin oknum alias curang.
    2. negara ini 80% islamnya fundamentalis dogmatis bin blo'on.
    3. dll..
    4. cap tangan suharto yg berbekas hingga kini..

    Lagian, gue juga agak menyayangkan kenapa kalo mo bikin gereja kok langsung2 aja?! Harusnya kan ada proses dulu seperti islam purwakartanisme itu: mengemis di TENGAH jalan.Huehehehehehehe..

    Ah tau ah! Gue lagi error mikirin negara ditinggal oom Nur.. Langsung pesimis setiap saat gini jadinya..

  2. Lah, kok pesimis… Pasti bukan itu kan yang diinginkan beliau kan?😉

    Hehehe… Ya, bikinnya nggak pake ngemis dulu di jalan, soalnya kan ada kantong2 persembahan tiap hari Minggu, bulanan, tahunan, dll. Yang penting izinnya ada toh…😀

  3. justru umat islam indonesia sudah sangat tolerance bro… imagine bagaimana nasib umat islam kalau mereka minoritas? mereka mendapat perlakuan yang sangat buruk. ngga usah kita melihat ke eropa atau amerika.. tapi di indonesia sendiri seperti ambon dan flores…. kalau umat islam tidak tolerance tidak akan ada gereja di jalan protokol di Kota Padang! think about that man… peace

  4. Justru kalo kita berpikir bahwa kita SUDAH titik-titik-titik, menurut gue pribadi itu saatnya buat kita bercermin lagi. Toleransi buat gue nggak bisa dibilang “sudah” kalo masih saling merasa terganggu (ini baru dalam tingkat merasa, belom beraksi).

    Kalimat2 gue yang di-quote tadi (ttg mayoritas dan toleransi) adalah murni jawaban gue pribadi atas rasa terganggu. Gue ngalamin banget ngedengerin orang pengajian tiap Sabtu di deket rumah ortu, yang disiarkan melalui toa. Gue ngerti maksudnya baik, but berhubung (maaf) cara “menyanyikan”-nya juga ala kadarnya, baca masih tersendat2, yang ada buat gue jadi menjengkelkan. Tapi toh gue mengerti bahwa itu hak mereka, dan gue nggak datengin tempatnya dan mengobrak-abrik tempat itu dengan tuduhan Islamisasi kan?🙂

    Praktek toleransi ini ada dan hidup di keluarga gue sendiri (ortu Muslim, gue & suami Protestan, adek gue Buddha). Dan kami bisa hidup damai. Kalau ini diproyeksikan ke skala negara dan dunia, bukan mustahil kan?

    Oh, and btw, I'm a “sis”, not a “bro”. Hehehe.. Peace!

  5. Kalau sudah ada ijin, berarti sah. Kalau masyarakat masih keberatan, silakan temu muka, tapi caranya itu lho, di Islam kan nggak ada ajaran soal “pukul dulu urusan belakangan”.

    Bener kata Ness, ummat muslim Indonesia masih banyak yang lugu tapi sekaligus anarkis… Soal kekecewaan Ambon dll., rasanya tetep aja kalau balas dengan tindakan serupa adalah gak bener… =)

    Ati-ati kita mo diobok2 lagi kayak dulu…

  6. buset deh..
    jadi sah2 aja kalo menyerang gereja asal tetep dibiarkan berdiri?!
    toleransi macam apa itu?!
    batasan toleran itu relatif banget, man..
    try to look from the other side of perception, man..
    gue islam dan gue berani bilang, bangsa ini terlalu bodoh untuk bisa toleran!

    kristen ngapain dikit, angkat pedang..
    katolik beken dikit, angkat pedang..
    islam aneh dikit, sama.. angkat pedang..

    apa2 dicap sesat, murtad, mudarat..
    damn! kita lagi diadu domba sekarang ini..
    sesama agama.. sesama islam.. RIGHT NOW!!!

    Buka mata dong, man!
    Bisa2nya Gus Dur mau bekelahi sama FPI (misalnya)..
    Lalu si habib ini lawan ustadz itu.. duh..
    dan itu gara2 paham/ideologi doang, di dalam islam sendiri..

    sama sodara sesama islam ndiri aja sulit toleran..

    jangan bicara soal lu ato gue.. krn kita punya ukuran toleransi sendiri..
    tapi bicara soal apa yg terjadi di lapangan sekarang..

    One more thing:
    Padang bukan Islam. Padang adalah sebuah kota di Negara Kesatuan RI yg berdasarkan PANCASILA. Dan Padang tidak berdiri oleh Islam saja. Banyak yg membuat Padang jadi sebuah kota. Kebetulan saja Padang mayoritas Islam, seperti ambon yg mayoritas Katolik, seperti juga Jepang yang mayoritas Shinto. Dan gue, ORANG PADANG.

  7. Sebetulnya tetap saja toleransi kita ini masih paling tinggi. Tidak heran delapan tahun silam masih dijadikan sumber untuk dicontoh. Coba anda hidup di AS, memang kalau di utara seperti kami masih enak. Tetapi bukan berarti tanpa bisik-bisik. Kita bisa merasakan lah. Kalau di Indonesia tidak ada hal seperti ini. Belum kalau deket-deket sama kaum Evangelis…. kita nggak tahu apa yg ada di kepala mereka. Venezuela yg negara merdeka saja dimusuhi karena membina hubungan LN dengan negara Timteng. Dibilang mau menjadikan negaranya batu loncatan untuk teroris…… Ini lah kaum Kristen di AS…. ya Evangelis sih….. tapi jumlahnya melebihi kaum NU….

    Menurut saya sih nggak ada yg bener. Tetapi kaum Kristen di Indonesia memang juga sering kebangeten. Masih ingat isu 1000 gereja di Jawa dibakar. Jaman sekarang kamera murah banget, tapi nggak ada bukti satu fotopun. Jangankan seribu. Berita di bawah ini kan juga membuktikan bahwa umat Kristen sendiri suka memprovoke. Nggak ada apa-apa dibilang mau diserbu dan harap ngumpul. Ini kan bisa bikin gerombolan massa….. yg dapat memicu kecurigaan warga setempat sebagai unjuk kekuatan. Kan pada akhirnya bisa berdarah-darah.

    Untuk perijinan, kan ada hitam di atas putih….. siapa saja yg menanda-tangani. Apa betul warga setempat. Jangan-jangan asal ada tanda tangan. Kan jadinya cacat hukum. Keterlaluan lain dari umat Kristen adalah permintaan pencabutan pembangunan peribadatan. Di AS semua bangunan peribadatan harus ada ijin dari warga setempat…. malah sering harus diputuskan oleh satu kota. Kan umat Islam juga nggak sedikit yang berpengetahuan luas. Kebohongan atas nama kebebasan beragama ini jadinya kayak menange dewek aja….. Berasa pinter sendiri…. jadinya ya banyak yg naik pitam.

    Keterlaluan dari umat Islam adalah pemakaian loud speaker yang sering ngaco. Ngasal aja. Anak kecil lagi latihan baca lalu dikasih speaker….. Kalau saat azan ya boleh dong. Kan banyak juga gereja yang 12 kali sehari membunyikan loncengnya. Bisa aja beralasan itu kan untuk pemberitahuan jam aja…. tapi kan sebetulnya dapat diterjemahkan sebagai unjuk eksistensi gereja. Di kampung saya di Jateng ada belasan gereja, dan hanya 2 masjid. Bayangin aja bunyi klonengan…. Itu mayoritas penduduk adalah muslim lho….

    Soal penyerbuan, yah… saya menyayangkan. Tetapi bisa jadi karena pat gulipat dari pendirian gereja itu yg memang sering misterius. Coba aja kalau mau buka-bukaan aja deh….. Entar kan setuju sama saya…..

    Bottom line, biarin aja deh….. pusing amat….

  8. Masalahnya adalah prinsip negara kita sebagai negara kesatuan yang berdasarkan PANCASILA, bukan ISLAM. Kalo yang dipermasalahkan adalah ijin, saya yakin jumlah Masjid tanpa ijin bahkan lebih banyak lagi (hanya berdasarkan fakta bahwa jumlah masjid itu jauh lebih banyak daripada gereja). Jadi kalo mau konsisten karena masalahnya adalah ijin, ya silahkan bongkar juga masjid masjid yang tidak memiliki ijin. Itu kan kalo mau fair-fairan aja. Sebenernya masalah ini ga penting banget lagi. Kita sebagai bangsa harusnya bisa saling rukun dan bersatu untuk memajukan negara ini bersama.

  9. You're missing Lala's point, dude… She wrote TOLERANCE!!!! It's about respecting each other as God's creatures…

    Tugas kita sebagai orang yang dicintai dan mencintai Tuhan, ya menyebarkan kasih-Nya ke lebih banyak orang ya.. Supaya gak ada lagi orang yang menganggap SAH menyakiti orang2 ciptaan Tuhan…

    Mungkin ini pelajaran buat kita orang Kristen untuk membenci tindakan penyerbuan (terus terang sampai sekarang gue geraaam), tapi tidak membenci orang2nya… Disuruh lebih melihat kasih cinta Tuhan Yesus kali kita ya La…

    OK, May God bless us all

  10. Saya rasa gak begitu fair ya untuk bilang ini…🙂

    GKI Ciledug itu dibangunnya susaaaah banget lho, dan ijinnya lengkap. Saya ingat dulu kami masih numpang di Seskoal buat sekolah minggu. Aduh susahnya, tapi akhirnya setelah bertahun2 bisa dapat ijin bangun dan cukup uang untuk mulai congregation di gd baru… Dan gereja itu (spt gereja2 lain) udah kayak rumah kedua buat jemaat, tempat kita kumpul, latihan nyanyi, kelompok kecil untuk bahas alkitab, persekutuan doa dll.. Jadi kebayang dong gimana nelongso-nya jemaat GKI Ciledug diserbu begitu…

    Saya ingat beberapa tahun lalu gereja suami saya (HKBP Petojo), diserbu betul2.. Lemari alkitab dibakar, altar dihancurin, kaca mozaik dilempar batu… aduh sedih banget..

    Mungkin ini tugas kita sebagai orang2 yang mencintai Tuhan, untuk lebih menyebarkan kasih Tuhan ke banyak orang.. Supaya orang gak gampang menyakiti orang2 lain yang adalah ciptaan Tuhan juga, dan Tuhan kasihi..

    Buat Lala, yah kali kita lagi diajar untuk terus belajar cinta Tuhan Yesus kali la.. gimana mencintai dan mendoakan orang2 yang membenci kita..

    May God bless us all…

  11. Iya…. saya setuju, bongkar aja masjid tanpa ijin. Mudah kan? Masak sih masjid lebih banyak? Perasaan gereja lebih banyak…. Beasar-buesar, di jalan utama, tinggi-tinggi.

    Di kampn saya sendiri ada berapa gereja ya…… ehm, GKJ, Bala Keselamatan, Sion, G. Katolik… rasanya lebih dari sepuluh. Belum rumah y disulap jadi gereja. Masjid cuman dua.

  12. Sebenernya siapa sih yang tiba2 merasa defensif? btw, kalo rumah disulap jadi gereja itu apa definisinya? orang berkumpul untuk mempelajari alkitab, apakah itu dianggap gereja? kalo begitu pengajian dirumah orang dianggap masjid doong? dan dari teori probability aja kalo 90% penduduk ini adalah pemeluk agama islam dan ada lebih banyak gereja berarti semua gereja pasi kosong semua dan semua masjid overflow dengan orang kan? Doesn't take jenius untuk melihat bahwa jumlah gereja ga mungkin lebih banyak dari masjid.

  13. Dear All,

    Thank you for all your replies. Salah satu pertimbangan gue kenapa gue sebisa mungkin menghindari topik SARA bisa “dibaca” dari jawaban2 kalian sendiri. Menurut gue selama kita masih suka menghakimi dan mempermasalahkan benar/salah (ini hak Tuhan sepenuhnya), kita nggak akan pernah bisa bergandengan tangan dengan tulus–yang mana ini adalah tujuan gue sebenarnya. Gue melihat kita sebagai umat beragama (walaupun berbeda2) sepertinya kurang punya niat untuk bergandengan tangan. Kalau punya niat tulus, masa sih masih saling curiga?

    Artikel2 ttg penutupan gereja ini berasal dari sumber2 yang boleh dimintai pertanggungjawabannya. Dan gue juga bertanggung jawab atas pendapat gue, naturally. But on the other hand, gue nggak bertanggung jawab atas pendapat2 kalian atas pendapat2 orang lain, walaupun dilakukan dalam wilayah gue. Jadi gue minta dengan sangat, kalau sekiranya akan berlanjut menjadi ajang balas-membalas emosional, silakan dilanjutkan di jalur pribadi. Fair enough kan?🙂

  14. Gue rasa ini a figure of speech, ya. Buat sebagian orang, diserbu berarti sekelompok orang yang lebih banyak dari kelompoknya, dengan tiba2 mendatangi dengan nada/aura mengancam, misalnya. Buat sebagian orang, didatangi 40 orang nggak dikenal yang menunggui saat kita sedang beribadah adalah diserbu.

    Memang pendetanya (and by the way, Marthen disebut sebagai pengurus gereja, bukan pendeta) nggak bilang “diserbu” karena dia merujuk pada SMS yang melebih2kan itu (dalam SMS disebutkan “dikepung”). Tapi di bagian lain dari artikel itu kan membenarkan bahwa memang ada 40 orang yang mendatangi gereja tersebut saat sedang terjadi peribadatan. In common sense, kalo cuma mau ngomong baik2 apakah perlu 40 orang?😀

    Sepertinya sih batasan melebih2kan adanya pada diri sendiri. Kita bisa nerima dengan kepala dingin atau emang hobi diprovokasi. Hehehe…

  15. Di daerah gue aja ada 15 mesjid dan ga ada gereja..
    15 mesjid ini punya 15 toa yg mementahkan kekhusyukan adzan..
    Karena balapan semua..
    Bukankah kalo jaraknya deket2, mbok ya tereak aja gitu lho..
    Kayak Bilal jaman dulu..
    Mungkin mesjid2 ini pengen kedengeran sampe ke kelurahan sebelah.. yg punya another 15 mesjid..

    YANG SEMUANYA SEPI DI HARI BIASA KECUALI HARI JUMAT!
    BUAT APA BIKIN SEBUAH MESJID KALO CUMA RAMENYA SEHARI DOANG?!
    ini 15 mesjid.. hhh..

    Kenapa saya marah? Karena saya cemburu lihat mesjid di mekkah, madinah, jeddah, istanbul.. ga banyak2 amat mesjidnya tapi banyak yg datengin.. di indonesia? banyak banget mesjidnya, jarang yg datengin..

    BUKAN AGAMANYA YG SALAH! BANGSANYA YG BEGO!

  16. Betul.
    Kemaslahatan suatu kaum, meski itu plural, tergantung dari kemampuan MENTAL mereka untuk menerima manusia individual dan sosial seperti apa adanya. Kalo ga bisa terima, ya kayak bangsa Arab itu yg gemar berkelahi..

    Catatan: Saya bicara Arab dan bukan Islam! Karena Islam tidak gemar berkelahi, makanya juga diturunkanNya di Arab.. Pusat perkelahian dunia..

  17. Hehehe, ini buktinya masyarakat kita harus belajar berTOLERANSI dan gak sensitif kalau ngomongin agama…

    Ya jelas dong gereja tinggi2, wong harus nampung banyak jemaat, kalo gak tinggi ya panas dong mas🙂 Rumah saya juga suka ada persekutuan doa, kan sama itu kalo di rumah eyang saya suka ada pengajian… Jadi rumah saya dan eyang saya harus dibongkar gitu? Wah sadis betul…

    Setuju dengan Lala, biarlah agama menjadi hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Orang mau berhubungan dengan Tuhan kok diusik2.. Nanti kalau Tuhan marah baru tahu manusia.. Manusia sekarang udah pada belagu sih, mau ngutak-ngutik urusan Tuhan…

    Jadi biar aja dong ada gereja, mesjid, kuil.. Selama itu tidak mengajar hal2 yang berbau kekerasan (seperti ngajak jemaatnya perang, manas2in jemaat dll) ya biar aja berdiri.. Kalo semua berhubungan dengan Tuhan, kan jadi aman dan tentram.. Kalau sekte2 yang gak jelas, seperti yang menyuruh jemaatnya bunuh diri, baru kita utak-utik…

    OKEH…. Pissss…..

  18. huahaha! gue setuju,2 agama terbesar ( dan yang pualing sering cekcok) di dunia emang diturunkan di daerah situ. Sampe sekarang tanah Israel juga “panas” karena itu juga ( ditambah agama Yahudi).
    Yah, di mana-mana golongan mayoritas menekan minoritas. Kalo di itali,ijin mendirikan mesjid yang susah. Semenstinya manusia menafsirkan Kitab Suci secara hermenetika (usul ini tercetus pada saat pertemuan para Ulama di Pesantren Sunan Kali Jaga, dan mereka cukup sepakat,tapi,tidak bisa disebarkan untuk umum). Hermenetika artinya membaca sesuatu sesuai konteks waktu dan situasi.
    Hadu, saya sedih membaca berita2 seperti ini,kayaknya gak bakal ada habisnya.

  19. Emang di mana tuh? Di Padang? Kalau di kampung saya di Jateng jumlah gerejanya lebih banyak dari di kota sekarang saya tinggal.

    Ya lain dong…. yang perlu dilihat adalah proporsi dengan pemeluknya. Kalau saat Jumatan masih ada yang gelar koran, artinya belum banyak. Arab Saudi penduduknya berapa…. kalau diproporsikan, masjid di Saudi tentu jauh lebih banyak. Jadi ekspek akan lebih banyak masjid di Indonesia.

    Jangan lihat di kota-kota besar, lihat di kota kecil…. kalau di kota itu lebih banyak masjidnya, baru hebreing… Biasanya cuman masjid jami di utara alun-alun…. Yang lain di kampung-kampung.

    Soal azan, setuju suaranya dikecilin….

  20. Saya bisa ngomong gini karena saya tinggal 27 tahun di Bandung, 3 tempat berbeda. Dan saya anak kampung juga dulu. Sekarang sudah 3 tahun lebih di Jakarta, 3 tempat berbeda pula, deket kampung pula..
    Ga di kota, ga di kampung, mesjidnya berlomba2 banyaknya..
    Pernah melakukan perjalanan Jakarta Bandung lewat Purwakarta? Sepanjang jalan anda akan menemukan setiap 500 meter, tong2 kosong untuk memperlambat laju kendaraan dengan 5 – 7 orang di TENGAH JALAN memegang jaring untuk menangkap ikan, memohon sedekah untuk pembuatan masjid..

    Ini baru di Jakarta, Bandung, dan Purwakarta.. Saya belum ngomong Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Indramayu, Cirebon, Cilacap, dan Serang lho..
    Dan ini baru Jawa Barat. Udah pernah ke Ujung Pandang a.k.a Makassar? Koto Gadang? Bukit Tinggi?

    C'mon, kita kan ga bicara di konteks Jateng doang laah..

    Umm.. sudah pernah ke Saudi?

  21. Hmm….. 7 tahun saya tinggal di Bandung, 6 tahun di Jakarta….. Nggak pernah lihat masjid yang nggak luber sampai jalan-jalan. Nggak di masjid krucil di simpang Dago, di Salman, semua sampai berdesak-desak. Di Jakarta sama aja… Kok bisa bilang kebanyakan masjid itu gimana? Gereja juga banyak sekali. Masak perlu saya tunjukin, hehe…..

    Apa pernah lihat jemaat gereja sampai gelar koran? Paling di rumah-rumah yg disulap jadi gereja seperti persis di depan rumah saya di kampung…. Malah adik saya suka kebaktian Minggu karena dikasih kue, hehehe….. Saya pernah ke Padang, ke Ujung… eh, Makasar…. Udah lebih dari hitungan jari tangan saya…. sama aja kondisinya. Kecil-kecil…., banyak yg kusam…. (semua kota yg anda sebutkan sudah pernah saya kunjungi, btw, eh, di LN belum). Paling satu yg besar. Memang 99.9% muslim kok gimana? What is the point?

    Kalau mau, silakan tengok di wilayah Manado ada berapa masjid. Di wilayah Bitung sering sekali masjid-masjid kecil dilemparin. Bikin masjid nggak boleh…. didemo, ustadz-nya dipukulin….. Ini nggak ngibul. Check it out…. Rasanya ada yg kasih foto deh…. Teman saya kuliah malah pernah benjut dipukulin di Manado dan Ambon… Padahal nggak ada hubungan kerja dg agama, hanya karena jenggotnya panjang aja. Malah masuk koran….

  22. Ini mulai garing nih..
    Pengetahuan 27 tahun di Bandung-nya saya bisa dimentahin ama 7 tahun di Bandungnya Anda..
    Really.. mulai garing.. apalagi cuma ngomongin Salman dan Simpang.. Geez, emang Bandung cuma segede itu?
    Pengennya sih kita tour de Bandung, nanti saya kasih liat masjid2 di Bandung..
    Lagian, kalo emang masjidnya terlalu sedikit, kok di hari biasa kok pada nggak ada? Jadi beda sama di Saudi dan Istanbul.. tiap hari penuh terus.. that's the whole point.. Masak ibadah cuma Jumatan? Daarut Tauhid juga penuh kalo jumatan.. emang ada masjid yg sepi pas jumatan? Ada sih, di USA dan Jepang.. Plis deh ah..

    Btw, kalo emang mau bilang org kristen di Indonesia (bukan agama kristen-nya) itu rese2, ya bilang aja.. jangan takut2 lah..
    Kok cuma nyerempet2 melulu sih..
    Gue aja lg mau nusuk orang, yg kebetulan kristen, dan memakai agamanya untuk nyakitin hati keluarga saya.. kebetulan juga, saya nggak mau nususk kristennya, tapi nusuk oknumnya.. beneran kok.. tinggal nunggu waktu aja..
    Hehehe..
    No hard feelings ya..
    But anyway, capek ngobrol sama Anda di lingkaran setan yg udah mulai ke arah debat kusir.. jadi.. udahan aaah.. dadaaaah!

    ps: kayak begini mo ngarepin gandengan tangan.. autokoreksi ke kaum ndiri aja susah..

  23. Hihihi…. nggak perlu 27 tahun dong buat tahu Bandung mah… Sekecil itu kok perlu puluhan tahun… Seminggu juga cukup untuk menelisik kota Bandung, hehehe…… Jadi kalau 27 tahun diartikan pasti lebih tahu dari 7 tahun ataupun 1 tahun, jelas tidak ilmiah, huahaha…..

    Siapa yg bilang orang Kristen di Indonesia resek-resek? Nggak ada tuh… Saya cuman bilang mau sebelum protes melulu, lihat dulu di daerah lain. Juga jangan suka membesar-besarkan sesuatu di luar proporsinya. Ini kecenderungan mereka kalau sudah bicara soal rumah ibadah. That's it, that's all…. hehe…..

    Dadah juga….. bye-bye…. lain kali otokoreksinya yg berimbang ya…. hehehe…. Eh, jemurannya kalau udah garing diangkat ajah…. Ngamuk-o… ngamuk-o kono… kalau darah tinggi rugi sendiri lho…

  24. Ya iya penuh terus…. kepenuhan oleh turis….. Istanbul penuh terus? Hmmm…. orang Turki di sini kayak orang pindahan, buanyak banget… bahkan satu keluarga hidupnya persis di atas saya. As we speak (atau as I write), dia lagi jalan… dug-dug-dug…. Nggak sholat tuh…. nggak pernah ketemu Jumatan.

    Orang Turki separo ke masjid separo lagi ke bar….. Ini orang Turki sendiri yg bilang. Jadi karena saya belum pernah ke sana, dan hanya dari observasi kehidupran orang Turki di sini, menurut saya orang Indonesia lebih baik…. Klaim anda bahwa masjid di Turki tiap hari penuh masih sulit untuk diterima.

    Soal Jumatan, ya ini yg dapat dilihat. Harusnya semua orang bisa Jumatan dengan kusuk…. nggak kayak sarden ditumpuk. Kalau hujan lalu pada panik…. Siapa bilang tambahan masjid nggak perlu? Kalau tambahan gereja, nah ini saya nggak tahu. Mereka lebih tahu….. atau untuk menyebar kabar kasih sebagaimana yg mbak di bawah itu sebutkan…. I dunno…. and I don't really care. Tapi kalau sudah protes nggak adil, nggak punya nurani…. saya ingin mereka hidup sebagai agama minoritas… atau sebagai muslim di AS deh…. Belum kalau hidup di negara kayak Philipina…. maka minoritas Kristen di Indonesia harusnya bahagia…. Apakah ada muslim yg brengsek… uwah… banyak…. tapi kalau ditimbang-timbang, sungguh nyaman hidup sebagai minoritas Kristen di Indonesia. Tapi lihat apa yg dilakukan oleh oknum Kristen Indonesia di AS? Ini khusus mereka yg lagi cari cara untuk dapet greencard…. mereka bilang karena ditindas di Indonesia….. Apakah banyak yg baik, o iya…. 99% baik. Siapa yg bilang nggak baik sih?

  25. Wah wah, jadi panjang dan tak nyambung.. Kasian si Jaka sambung… Karena pak Brawijaya sudah bilang I don't really care, ya udah jangan reply lagi ya pak..hehehe.. Bener bapak kok, saya bahagia jadi orang Kristen di Indonesia, juga waktu saya di India dan di Philippines.. Bahagiaaa banget pak, ampuuuuuunnnn… huahahaha….

    Udah ah, mending nonton Rockstar INXS yuuuukkkk… DUKUNG MIG….

    Sudah-sudah mending kita karaoke saja…. asiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkk………

    La, VCD Karaoke di Manila bagus-bagus banget lho, ntar kalo gue balik ke Indo ke rumah gue karaoke-an ya? Saya yang masak deh… hehehehe…

  26. Nah gitu dong…. jangan ngeluh aja.

    I do care kalau banyak yg kipas-kipas… Bagi-bagi dong pengalamannya waktu di India dan di Philipina…. Gimana kelompok muslim di kedua negara itu…. Atau sebagai orang Kristen protestan di sana deh. Lalu bandingin dengan minoritas di Indonesia…. Gitu kan enak…. Dengerin orang ngomel jadinya kan bikin saya spaneng juga…

    Ayo… ayo….

  27. Wakakakakakakak… Setuju2, as I said, agama mah urusan masing2. Loe bilang salah kalo buat gue bener, mau apa coba? Huehehehe… Kalo mau itung2an banyakan mana gereja sama mesjid mah itung aja sendiri… Nggak penting dan bukan esensi masalahnya… :p But you know what? It's the first time my entry got hit more than 100 times. Kikikikikikik….

    Gue mendua nih May, dukung MiG sama Marty!!! Kalopun yang satu kalah gue akan tetep ngefans sama band-nya deh! Hihihi… segitunya…

    Dah, yuk, kita karaoke-an aja… Kan Dangdut is the music of my country, katanya… Siapa tau karena karaoke bisa gandengan… Adeeeuuu… *wink-wink*

  28. sadly so, for he's been three times in the bottom three. that's enough for inxs.
    damn, JD!!! (kok gak nyambung…he he he)
    tapi gw emang udah dari awal gak suka sama orang ini. kemarin berantem sama suzi, poor suzi, dia sampe nangis dibilangin JD “i'm not your friend anymore”. so what, JD…????? tapi emang inxs keliatan udah gak suka sama si arogan ini. dia disimpan biar seru ajah, tau sendiri reality show tea, perlu antagonis and konflik.
    tapi kan kasian si Ty.

    tapi udahlah, mau banyakan gereja atau masjid, silakan itung sendiri ya, La…:)

  29. mig mah cocoknya solo aja, kayak richard marx atau siapa tuh penyanyi satu kampungnya yg pake price-price….udah bisa main piano, apa lagi coba.
    btw, katanya armand maulana ikutan. kok gak keliatan ya sejak awal. ikutan nonton kali ya….:)

  30. Rick Price! Yang nyanyi Heaven Knows… Suit-suiiit!
    Ih tapi ngebayangin MiG nyanyi yang lembut2 gitu jadi males… But he can always switch to being a fashion icon.😀

    Katanya Armand cuma buat promote program ini di O Channel (Jakarta's Own Channel tea). Jangan2 kalo nonton di O Channel, muka Dave Navarro ganti muka Armand… Hahahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s