Capek Hati

Menjelang akhir minggu kemarin, kerjaan gue di kantor tiba2 beres semua. Seneng? Pastinya. Tapi berbarengan dengan itu gue baru ngerasain betapa capeknya gue selama ini. Yang dulu2 orang bilang “Loe kecapekan kali…”, gue malah heran capek di sebelah mananya… giliran gak ada kerjaan malah ngerasa capek gini…

Mungkin karena begitu gak ada kerjaan, kepala gue muat untuk dijejali pemandangan2 lain yang mengusik. Mulai dari rumah yang gak keurus, suara mezzo gue yang belom balik normal (believe it or not, malah gue bisa nyanyi dengan suara alto dan sopran, but not my usual mezzo) sementara gue mesti nyanyi jumat ini, kesepian di rumah, dll, dll. Jadinya malah mikirin yang nggak-nggak, feeling blue gak jelas…

Somehow gue tiba2 miss the old days. The days when there was just me to think about. Gue mau pergi ke mana kek, sama siapa kek, ngapain kek, nggak ada orang yang wajib gue lapori (baca: pacar, suami), dan ortu gue juga udah ngerasa gak perlu nanya. Kangen tinggal di Bandung (tapi Bandung yang jaman dulu, bukan yang macet kayak sekarang), kost sendiri, bangun siang, jalan2 naik angkot tapi gak keringetan, ngebir (kayaknya cuma di Bandung deh rasa bir berubah enak). Kangen pacaran stuff (kata suami gue yang romantis2 itu pacaran stuff, gak penting): jalan2 gak jelas yang penting berdua, being kissed when you least expect it, anything to spark up my love life…

Kadang2 gue ngerasa mungkin gue udah sakit jiwa juga kali. Pada suatu saat gue pingin punya tanggung jawab lebih, tapi kadang2 gue pingin nggak peduli aja tanpa merasa bersalah. Neng, di mana2 kita sendiri yang harus bertanggung jawab sama hidup kita. Yah, tapi gue capek. Males mikirinnya. Sekali2 gue pingin break free from all these things and be my careless self (baca: lakukan dulu, mikir belakangan) instead of my everyday composed self.

Belajar dari pola tingkah laku gue seumur hidup, I’m a rebel. Tapi faktanya gue anak paling tua dan being wrong is not an option for me, especially because my dad is my Dad. So I was actually living 2 different lives. Sampai saat ini mungkin bokap-nyokap gue menyangka gue cuma pernah 2 kali pacaran seumur idup. Oh, man… Hahaha.. Gue gitu loh… Yah, itu gak lain dan gak bukan karena awalnya gak boleh (i had my first bf when i was still in 6th grade, he was in junior high, nyokap curiga aja sih sebenernya, tapi gak tau), trus gue diem2, jadi keterusan guenya nggak pernah cerita2. Kalo mereka tau jenis2 cowok yang gue pacarin mungkin nyokap gue nggak awet muda kayak sekarang. :p Wong urusan gue mau masuk SMA aja dia yang kurus, bukan gue. Tolong… Jadi yang pernah gue kenalin ke ortu gue, berbahagialah, tapi mungkin kalian tidak se-bad boy yang kalian pikir.😉 Yep, maybe that’s it. I loved the ones who could set my wild self free. It’s not always good, but I need that once in a while.

Trus sekarang point gue apa coba nulis journal ini? Nothing? Mungkin. Nggak usah dimasukin ke hati, namanya juga lagi capek hati. Penting buat gue, nggak penting buat loe. Kahlua Cream, anyone?

7 thoughts on “Capek Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s