Side Notes on My KL Trip

  • Sekarang Air Asia mendarat dan diberangkatkan dari LCCT (Low Cost Carrier Terminal) – Kuala Lumpur International Airport. Letak terminal ini agak jauh (not within walking distance) dari Main Terminal. Jadi kalau berminat jalan2 dulu ke Main Terminal, bisa naik shuttle bus warna hijau di depan LCCT. Tarifnya cuma RM 1.50 per orang. Kekurangannya, bagasi harus dimasukkan ke dalam bis (nggak ada bagasi di bagian bawah bis), jadi kalo masuknya agak2 belakangan siap2 nggak dapet tempat duduk karena penuh barang. Perjalanan ke Main Terminal cuma sekitar 10 menit saja. Di Main Terminal ini fasilitas lebih lengkap dibanding LCCT. Jadi kalau udah kelaperan, pingin beli cokelat, atau souvenir, yah mending cari di sini aja. Downside-nya, dari Main Terminal ke Kuala Lumpur transportasinya jadi lebih mahal. Kalau cuma bepergian sendiri dan bawaan nggak banyak, pilihan naik Monorail ke KL Sentral cukup bijaksana. Biayanya RM 35.00 per orang. Tapi karena kemarin kita berlima, akhirnya naik chartered van seharga RM 150.00 (with AC dan diantar sampai ke tujuan di Bukit Damansara). Alternatif paling murah sebenarnya adalah naik shuttle bus milik Air Asia yang berangkat tiap 1/2 jam sekali dari LCCT. Biayanya cuma RM 9.00 seorang dan perhentian terakhirnya di KL Sentral. Tiket kita juga nggak diperiksa, jadi seandainya kita naik airline lain pun, bisa2 aja naik bis ini dari LCCT (sebelumnya naik shuttle bus dulu dari Main Terminal ke LCCT dengan cara kebalikan yang tadi).
  • Colokan listrik di Malaysia (juga Singapore, in that matter) memiliki 3 lubang. Ini penting banget diketahui untuk yang ketergantungan dengan alat2 elektronik yang perlu di-charge. Pilihannya adalah membawa converter sendiri dari Jakarta (bisa beli di Carrefour atau Hero), atau cari plug plastik ‘penipu’ setelah sampai di KL. Bentuk ‘penipu’ ini adalah lembaran plastik keras dengan dua lubang dan satu kaki, sehingga pada saat di-plug ke colokan, lubang paling atas akan tertutup oleh si kaki, dan kita tinggal memasukkan charger (atau apapun) ke kedua lubang terbuka di bagian bawah. Karena waktu itu gue lupa bawa dari Jakarta, gue beli di IKEA dengan harga RM 0.80/4 buah. They really did the trick!
  • Lagi-lagi soal Teh Tarik. Minuman ini ada di mana2, mulai dari Airport, foodcourt, sampai pinggir jalan. Harga normal Teh Tarik sangat murah, sebagai contoh sebuah kedai makanan di ruko daerah Petaling Jaya, harganya hanya RM 1.20 segelas. Di foodcourt kota Putrajaya (kota pusat pemerintahan), harganya RM 3.50 segelas, sementara di Airport harganya mencapai RM 5.00. Tinggal pilih aja deh mau yang mana, tapi buat gue yang murah lebih asoy! Hehehe…
  • Soal transportasi, getting around KL nggak semudah di Singapore. Bis dan mass transportation seperti LRT dan Monorail memang tersedia, tapi masih kurang terintegrasi pelaksanaannya. Misalnya nih, dari tempat tinggal gue di Petaling Jaya, mestinya gue bisa naik feeder bus ke stasiun LRT terdekat (Taman Jaya). Tapi bus stop-nya jauh pisan dan bisnya setaun sekali. Alhasil lebih cepat dan nyaman naik taksi aja ke stasiun. Naik taksi di KL nggak bisa rame2 kayak di Jakarta, lho… Normalnya penumpang hanya 2 orang. Tiap kali nambah, per orang di-charge RM 0.20 lagi. Tapi supir2 taksi di KL cukup ramah dan kooperatif, dan yang pasti selalu ngasih exact channge, nggak ada tuh nggak ada kembalian atau belagak bego (nganggep penumpang mesti ngasih tip). Naik LRT di KL juga nggak terlalu ribet, asal kita juga udah tau mau ke mana (informasi tujuan wisata bisa dicapai dengan kendaraan apa masih kurang di sini). Bisa beli tiket di mesin (siap2 pecahan RM 1, 2, atau 5 dan lots of coins), bisa juga beli di loket (electronic ticket atau manual ticket).
  • Masih soal transportasi, jangan pernah naik taksi dari exit-nya IKEA. Mereka nggak pake argo! Argumennya sih mereka nunggu 4 jam dan tiap kembali dari tempat tujuan penumpang, taksi mereka kosong. Gue sempet kena pas hari pertama. Tapi setelah dapet bocoran dari Satpam di The Curve (bangunan seberang IKEA), ternyata dengan modal nyebrang jalan dikit, kita bisa dapet taksi berargo. Hmm, gue curiga taksi2 di IKEA itu supirnya orang Indonesia! Hihihi…
  • Soal souvenir, harga satu barang yang sama bisa berbeda jauh di berbagai tempat. Contoh, magnet buat kulkas dengan desain yang sama bisa gue beli seharga RM 2.90 di salah satu toko souvenir di Suria KLCC, sementara di Jalan Petaling (China Town) harganya bisa sampai RM 4.90, apalagi di Putrajaya (RM 5.90). Central Market (juga masih di China Town) ternyata juga nggak pasang harga murah walaupun bersaing keras dengan sekitar. Beda beberapa meter aja harga bisa beda seringgit-dua ringgit. Ajaib… Kalau kaos, harga paling murah gue dapetin waktu jalan2 di Pasar Malam daerah Taman Tun (tiap hari Minggu dari jam 5-9 malem). Cuma RM 5.00. Tapi tentunya kualitas memang lebih rendah sih… Gantungan kunci termurah gue dapet di Jalan Petaling (China Town) dengan harga RM 10.00/6 buah.
  • Kalau berniat liat planetarium di KL, sebut aja mau ke Taman Tasek Perdana (Lake Gardens) ke supir taksi. Taman ini nggak cuma berisi Planetarium Negara, tapi juga ada Orchid Garden, Deer Park, dan Bird Park. Gue cuma sempet ke Planetarium karena waktu itu udah jam 3 sore (tutup jam 5), di mana gue nonton “Birth of A Star” di Mini Planetarium (tingginya cuma se-ceiling dan kursinya bangku plastik, jadi kepala harus didongakkan sendiri) seharga RM 2.00 dan “Ring of Fire” di Planetarium-nya seharga RM 6.00. Oya, di Damansara ada juga gedung berkubah yang tampangnya mirip dengan planetarium, tapi sebenernya adalah Pusat Sains Negara. Jadi jangan salah, mentang2 sama2 berkubah!
  • Atraksi baru di KL adalah Aquaria, yang tak lain dan tak bukan adalah Sea World-nya Malaysia. Aquaria bisa diakses dari basement Suria KLCC, tapi perjalanannya cukup jauh (gue rasa sebenernya across the street from KLCC, cuma lewat underpass). Tiketnya rada mahal, RM 38.00 untuk adult (special price untuk senior citizen dan student card holders). Tapi ternyata kita dapet CD interaktif yang isinya sama dengan yang dipasang di touch-screen computers di sana. Lumayan bangetlah. Barang2 di toko souvenirnya cukup beragam dan cocok untuk kantong macem2 orang.
  • Koleksi CD musik di KL nggak se-seru di Singapore. Entah kenapa, banyak banget Imported CD dibanding yang diproduksi sendiri. Jadinya mahal. Buat perbandingan, CD buatan lokal harganya cuma sekitar RM 19.00-29.00 sementara imported CD sekitar RM 45.00-59.00. Gue juga nggak nemu banyak toko CD. Yang terbesar gue temukan adalah Tower Records di basement Suria KLCC. Pilihan lain adalah Borders di The Curve dan MPH di 1 Utama.
  • Untuk berburu buku, ada Kinokuniya di Suria KLCC lantai 4 (lantai pertama general books, lantai duanya khusus terbitan Page One, dan khusus buku2/majalah Jepang ada di Isetan lantai 2 Suria KLCC), Times (basement Suria KLCC), MPH di 1 Utama (yang lebih kecil ada di gedung lama lantai dasar, yang 2 tingkat ada di gedung baru lantai 4), dan tentunya Borders di The Curve lantai dasar dan 1.

2 thoughts on “Side Notes on My KL Trip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s