[Catatan Pinggir BuMil] Mendadak "Kampungan"

Karena selama 30 tahun hidup gue belom pernah sama sekali ngerasain punya kamar ber-AC, keberhasilan menaikkan listrik, beli AC, dan akhirnya (kemarin) menginstalasi AC, jadi “kebahagiaan” tersendiri. 

Di samping sekarang gue bisa bangun dengan keadaan rambut masih bagus dan kulit gak gatel2 (ini khusus pada saat hamil, kalo lagi biasa gue juga nggak segitu nistanya.. hehehe), udara yang bikin seprai tetap dingin ini membuat gue jadi terlempar ke suasana liburan; honeymoon di Hard Rock Hotel Bali, jadi penghuni hotel nomaden selama seminggu nunggu kamar kost kosong di Bandung pas mau belajar di NetScool, condominium Tante gue di Newton Road, kamar super gede di Bali yang satu tempat tidurnya bisa ditidurin gue-Gita-Emil, rumah di Petaling Jaya, dan liburan2 lainnya yang identik dengan kamar ber-AC. Hehehe… Mungkin yang bisa nyaingin kenyamanan ini dengan cara murah adalah 2 kamar kost yang sempat gue tempati selama di Bandung (Purnawarman th 1994-1998, dan Dago th 2000).

Yang pasti gue bersyukur bisa merasakan ‘luxury’ seperti ini, banyak orang yang dari lahir sampe mati gak pernah ngerasain tidur pake AC. Ya kan? Walaupun AC ini gue pasang demi si Kacang, mudah2an dia nantinya ngerti bahwa s/he has to earn this kind of luxury in the future.

8 thoughts on “[Catatan Pinggir BuMil] Mendadak "Kampungan"

  1. Mudah2an pada saat itu kita udah mampu punya rumah sendiri dengan AC di masing2 kamar. Hehehehe… Tapi pasti si Kacang disuruh joget2 sambil nyanyi pake kerecekan dulu sama bokapnya, biar tau AC-nya gak gratis. Hihihihi… :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s