[Artikel] Kuat-kuatan Membentang Layar


Dari Tempo…

Blitz Megaplex menawarkan film Eropa, Asia, dan independen. Dulu monopoli, sekarang pun Grup 21 masih perkasa.

KESEMPATAN hanya datang sekali. Petuah itu dihayati benar oleh Ananda Siregar dan Wendy Soeweno ketika keduanya hadir di American Film Market di Santa Monica, Amerika Serikat, awal November lalu. Di pasar film yang memutar 589 judul dan dihadiri produsen film dari 70 negara itu keduanya tak mau membuang kesempatan mempromosikan Blitz Megaplex, jaringan sinepleks yang baru dirintis Ananda di Indonesia.

Hasilnya, Blitz berhasil menjalin kesepakatan dengan beberapa produsen film. Di antaranya dengan Cineclicik Asia dan IHQ, produsen asal Korea Selatan. “Kami juga membeli 10 film,” kata Wendy, 32 tahun, Direktur Pemasaran Blitz, pekan lalu. Belanjaan baru ini menambah stok film yang sudah dibeli Blitz.

Dari Cannes International Film Festival di Prancis, akhir Mei lalu, Ananda membeli lebih dari selusin film. Ia juga berkenalan dan menjalin kerja sama dengan produsen film seperti Voltage Pictures, Capitol Film, Fabrication Film, MK Pictures, dan CJ Entertainment (produsen film terbesar di Korea Selatan). Semua untuk mewujudkan mimpi Blitz: tak cuma memutar film Hollywood dan Indonesia, tapi juga Eropa, Asia, dan film independen.

Mimpi ini sebenarnya digagas Ananda bersama rekannya, David Hilman, tiga tahun lalu. Dua pengusaha muda ini ingin menghadirkan sinepleks dengan konsep meniru sinepleks di Malaysia, Thailand, dan Singapura, yang hadir dengan 15 hingga 25 layar. Sedangkan di Indonesia, “Lebih dari satu dekade didominasi oleh satu jaringan,” kata Ananda, 31 tahun, seperti dikutip Bloomberg. “Itu pun hanya menawarkan empat hingga enam layar.”

Demi mewujudkan rencana bisnisnya, putra Arifin Siregar, mantan Gubernur Bank Indonesia di era pemerintahan Soeharto, itu mendatangi setengah lusin investor. Pintu mulai terbuka ketika Quvat Management Pte. Ltd., perusahaan investasi yang dijalankan oleh sejumlah bekas pegawai Farallon Capital Management LLC, tertarik pada ide Ananda.

Kebetulan, Ananda pernah menjadi eksekutif di Farindo Investment Ltd., yang 90 persen sahamnya dimiliki Farallon dan sisanya dikuasai Alaerka Investment Ltd. milik Grup Djarum. Jadi, “Kami memang teman lama,” kata Tom Lembong, eksekutif Quvat yang sebelumnya bekerja di Farallon.

Menurut Tom, Quvat tertarik mengucurkan dana karena bisnis sinepleks menggiurkan. “Bisnis ini kesannya main-main, kurang macho, karena pangsa pasarnya anak muda, tapi profitnya besar,” katanya. Quvat mengucurkan dana tak kurang dari Rp 250 miliar. Sebagian digunakan Ananda membangun Blitz di pusat perbelanjaan Parijs van Java, Bandung, Grand Indonesia dan Pacific Place Sudirman, Jakarta.

Di Bandung, Blitz yang beroperasi sejak akhir Oktober lalu itu hadir dengan sembilan layar dan 2.251 kursi. Di Grand Indonesia, yang akan dibuka Desember mendatang, Blitz akan muncul dengan 11 layar dan 3.300 kursi. “Kami juga akan membuka dua sinepleks setiap tahun,” kata Wendy, yang sudah membidik Pluit dan Kelapa Gading. Semua sinepleks digarap oleh Unick, perusahaan arsitek dari Glasgow, Skotlandia.

Dalam perjalanannya, Blitz menggandeng San Fu Maltha, bekas eksekutif Polygram yang kemudian mendirikan A-Film, distributor film terbesar di Belanda. “Ia salah satu yang membantu pembelian dan pemilihan film buat Blitz,” kata Wendy. Blitz juga menjalin kerja sama dengan Golden Screen Cinema (GSC), distributor sekaligus raja sinepleks nomor satu di Malaysia.

GSC adalah perusahaan yang lebih dari setengah sahamnya dikuasai PPB Group Bhd., perusahaan milik Robert Kuok, orang terkaya nomor 114 di dunia versi majalah Forbes 2006, yang bisnisnya merentang dari gula, perkebunan, properti, hingga hiburan. Lewat jaringan sinepleks milik Kuok inilah Blitz diperkenalkan dengan perusahaan film seperti Universal Studio, Miramax, New Line Cinemas, Fortissino, dan Pandora. “GSC yang melatih staf dan manajemen Blitz,” kata Wendy.

Pelatihan berlangsung dua hingga enam bulan. Hasilnya memang belum terlihat banyak, tapi, setidaknya, target awal Blitz sudah terpenuhi. “Dari seluruh pemutaran, 40 persen tempat duduk terisi setiap hari,” kata Wendy.

Grup 21, jaringan yang 20 tahun merajai sinepleks Indonesia, menyambut baik kehadiran Blitz. “Semua orang berhak bikin bioskop dan jadi importir film,” kata Noorca M. Massardi, Humas Grup 21. “Kalaupun memperebutkan kue yang sama, itu risiko bisnis.”

Toh, kondisi sekarang, kata dia, berbeda ketimbang dulu. “Dulu terjadi monopoli karena ada kontrol dari pemerintahan Soeharto.” Bentuknya adalah penunjukan Asosiasi Importir Film Amerika-Eropa yang berada di bawah manajemen PT Suptan Film, perusahaan milik Sudwikatmono-Benny Suherman.

Belakangan, perusahaan yang dibentuk sejak 1971 itu memborong kegiatan yang semula ditangani Asosiasi Eropa-Amerika, Mandarin, dan Asia non-Mandarin. Kondisi itu membuat bioskop di luar Grup 21 kembang-kempis. Sedangkan jaringan 21 (Subentra Group) yang muncul sejak 1986 kian perkasa. Setelah Soeharto lengser, Grup 21 tinggal memetik hasilnya.

Kini jaringan 21 merentang hingga 70 bioskop dengan 300 layar. Kegiatan impor dan distribusi film Hollywood ditangani oleh PT Camila Internusa Film (United International Pictures, Walt Disney, Sony) dan PT Satrya Perkasa Esthetika (Warner Bros, Columbia TriStar). Meski begitu, Noorca mengatakan, bioskop di luar jaringan 21 tak perlu cemas. “Mereka mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan film yang diimpor oleh Camila dan Satrya, asalkan meminta,” katanya. Termasuk Blitz, yang sejauh ini film-film Hollywood-nya berasal dari Camila.

Yandhrie Arvian

Paket Hemat dengan Digital
Gebrakan Carmike Cinemas ternyata memberikan inspirasi buat Blitz Megaplex. Akhir tahun lalu, jaringan bioskop terbesar di Amerika Serikat yang memiliki 307 sinepleks dengan 2.469 layar itu mengumumkan secara resmi pemakaian proyektor digital. Carmike menjadi jaringan sinepleks pertama yang menjajal langkah ini.

Maka dipasanglah 2.300 proyektor digital di jaringan Carmike. Proyek revolusioner ini ditargetkan kelar pada akhir Oktober 2007. Carmike menaksir, perubahan ke proyektor digital bisa menghemat pengeluaran US$ 1 miliar per tahun.

“Karena mereka tidak harus mencetak film lagi dan mengapalkan ke tempat lain,” kata Tom Lembong, eksekutif Quvat Management Pte. Ltd., perusahaan investasi yang mengucurkan dana buat Blitz Megaplex.

Hitung-hitungan tadi menjadi salah satu pertimbangan kenapa Blitz juga menempuh jalan serupa, meski proyektor seluloid 35 milimeter tetap menjadi yang utama. “Dengan digital, produser cukup memberikan format film dalam bentuk cakram,” kata Tom.

Pertimbangan lain, menurut Wendy Soeweno, Direktur Pemasaran Blitz, agar para sineas lokal yang memiliki keterbatasan untuk mengubah format digital ke seluloid 35 milimeter bisa menampilkan karyanya. Misalnya, ada sineas yang cuma punya empat kopi film 35 milimeter, padahal mereka ingin agar karyanya diputar serentak di beberapa kota. “Blitz bisa membantu memutar format digitalnya,” kata Wendy.

Selain itu, Blitz ingin memberikan kesempatan kepada para sineas untuk membuat film tidak dalam format seluloid 35 milimeter. “Film tersebut kelak diseleksi untuk diputar di Blitz,” kata Wendy.

Mira Lesmana, produser film nasional, menyambut baik langkah Blitz Cinema. Menurut Mira, pengemasan film dalam format digital bisa memangkas 20 persen ongkos produksi. Namun ia mengingatkan agar kejadian setelah film Jelangkung enam tahun lalu tidak terulang. Ketika itu semua orang meminta agar filmnya, yang dikemas dalam format digital, diputar. “Akhirnya terjadi gontok-gontokan karena pihak bioskop tidak siap,” kata Mira.

Sejak itu Grup 21 tetap mempertahankan pemakaian proyektor 35 milimeter di setiap studionya. Selain sewa proyektor digital mahal, menurut Noorca M. Massardi, juru bicara Grup 21, salinan film yang mereka peroleh dari Amerika Serikat tidak pernah dalam bentuk digital, tetapi seluloid 35 milimeter. Lagipula, katanya, Grup 21 sudah menginvestasikan dananya untuk proyektor 35 milimeter.

YA

10 thoughts on “[Artikel] Kuat-kuatan Membentang Layar

  1. yaolo…udah ga jaman deh rasanya film kayak “Escrava Isaura”…*membayangkan wajah-wajah latin berlogat jawa* hehhehee..sorry Mas, kayaknya lebih baik anak kecilnya les bahasa asing supaya ngerti filmnya🙂 Stidaknya pake subtitle, daripada intonansi suara jadi ngga pas ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s