Blessed

Tahun 2006 kemarin gue ngerasa begitu banyak berkat yang mampir dari atas. Kalo bahasa ‘kampung’-nya, hidup gue “pas-pasan”: pas kontrakan abis dan terpaksa pindah ke rumah ortu, pas ketauan hamil; pas lagi pusing2nya nggak punya duit buat ngelahirin, pas bisa cuti dari kantor dan ngebut terjemahan sehingga hasilnya pas buat bayar ngelahirin (udah gitu ternyata di-reimburse pula dari kantor Victor); pas abis ngelahirin dan nggak bisa nyusuin sehingga butuh banyak pengeluaran untuk susu formula, pas juga banyak yang ngasih hadiah berupa duit jadi nggak lagi2 terpaksa ngutang pake kartu2 keparat itu; dan lain-lain di luar masalah duit, yang puncak sesungguhnya adalah kelahiran Freya, my little angel…

Dengan begitu banyak berkat, rasanya tahun ini gue perlu bikin resolusi–sesuatu yang nggak pernah gue lakukan. Resolusi gue nggak muluk dan cuma satu: DEBT FREE! Yeah, kalian sedang membaca jurnal seorang bodoh yang terjerat kepraktisan kartu-kartu plastik yang menyamar menjadi perak, emas, dan platinum itu. Akibatnya berasa punya duit padahal utang segunung. Nah, taun ini gue bener2 pingin ngelunasin semua tunggakan kartu kredit dan menutup mereka satu per satu (mmm, in case you’re wondering gue punya cukup banyak, which makes me not only dumb, but dumber). So far tahun lalu gue udah berhasil nutup 1, dan bulan ini rencananya mau nutup 1 lagi. By April mudah2an beberapa personal loan udah akan selesai dibayar, dan gue bisa mulai asuransi pendidikan buat Freya. Terus terang keberadaan Freya membuatarget resolusi jadi terasa lebih nyata karena untuk yang satu ini nggak bisa tawar-menawar… Yah, kasarnya kalo gue sejelek2nya mah bisa idup makan indomie doang, tapi anak gue mana bisa??? So, there… Doakan saja tekad gue nggak surut dan keadaan semuanya favorable sehingga tujuan bisa tercapai.

Satu cerita pendek yang gue alami di awal tahun (tepatnya, baru saja tadi siang) untuk mengakhiri entry ini:
Tadi siang gue ngantre reparasi handphone di NPC Mampang. Karena gue datangnya bertepatan dengan waktu istirahat makan siang, gue dapet nomor antrean 100 sementara monitor baru menunjukkan nomor 66. Gue bertekad menyelesaikan urusan handphone yang sudah tertunda hari ini juga, jadi dengan pasrah gue duduk menunggu, sementara nyokap yang mengantar gue melanjutkan perjalanan dulu sebelum nanti menjemput lagi. Lebih dari satu jam gue duduk di kursi biru deretan paling belakang, terpaksa menonton sinetron nggak mutu dari TV yang siarannya terganggu. Di depan gue ada seorang ibu dengan 2 anak yang sedang mengantre mengambil handphone yang sudah selesai direparasi, sementara di sebelah kanan gue ada seorang ibu yang, mungkin karena sudah menunggu selama gue, tertidur.  Ketika monitor menunjukkan nomor B555, ibu dengan 2 anak yang memegang nomor antrean B557 dengan tidak sabar menyuruh anak laki2nya menanyakan apakah masih lama lagi sebelum gilirannya. Pikir gue, “Aduh, Bu… Ini yang namanya the eleventh hour… Udah tinggal dikit lagi kok masih nggak sabar? Pasrah aja knapa sih?” Bukan dengan maksud mau nge-judge atau semacamnya, tapi gue teringat diri sendiri yang suka nggak sabar atau khawatir berlebihan saat menunggu sesuatu yang nggak jelas lalu nyaris give up, padahal kalo gue mau sabar dikit lagi, it’s just around the corner from where i’m standing at the moment. Yang jelas hal yang sama dirasakan oleh banyak pengantre, sehingga saat beberapa nomor dipanggil, orangnya nggak kunjung datang; kemungkinan besar sudah capek ngantre dan memilih datang lain kali atau mutung sekalian. Selagi berpikir begitu, ibu di sebelah gue mulai terbangun dan mungkin menyadari bahwa kemungkinannya untuk dipanggil dalam waktu dekat masih tipis, jadi dia mulai berancang2 mengajak gue ngobrol. Yah, sebagian besar dari kalian tahu gue bukan orang yang gampang diajak ngobrol. Bukannya sombong, tapi sumpah gue gak bisa basa-basi! Maksudnya, gue suka mati gaya kalo yang ngajak ngobrol berhenti bertanya dan mengharap gue nanya balik… Lha wong gue nggak kepingin tau apa2 dari yang ngajak ngobrol, gimana dong?! Anyway, si ibu mulai bertanya2 ke gue mulai dari “Dapet nomor 100 ya?” sampe “Kalo benerin handphone di sini bisa ditunggu nggak?” sementara gue menjawab seadanya sambil meng-SMS nyokap. Sampai akhirnya dia bertanya, “Kalau ini nyalainnya gimana sih?” sambil merogoh2 tasnya lalu mengeluarkan handphone dan menunjukkannya ke gue, “kok saya pencet2 nggak mau nyala?” katanya sambil memeragakan tempat dia memencet2 yaitu bagian keypad depan handphone (Nokia). Halah, ini ibu kasian bener, pikir gue… Berhubung gue cukup expert soal Nokia (huehehehe), gue langsung meraih handphone sang ibu dan memencet tombol di bagian atas, and voila! (biasa memang, buat kita, tapi magic buat ibu itu…). “Ya ampuuun, jadi nggak rusak dong?” Meminjam sound effect adek gue, “Jgerrr…” Iya, bu, handphone ibu sehat wal afiat.  Ibu itu lantas berterima kasih atas tindakan P3K gue sambil tersipu2 menceritakan perihal kenapa dia sampai bela2in ngantre berjam2 untuk mereparasi handphone yang sama sekali nggak rusak. Katanya, itu handphone milik anaknya yang dititipkan selama pergi ke luar negeri, dan si anak akan pulang sore ini sementara kok si handphone nggak mau nyala. Merasa bersalah, berusahalah si ibu mereparasi handphone itu sebelum si anak pulang. Ya Tuhan, beda banget deh sama ibu2 yang nggak sabar tadi. Ibu yang ini, setelah berterima kasih, lantas pulang dengan senyuman. Lalu bagaimana nasib gue selanjutnya? Diuntungkan dengan orang2 yang udah keburu nggak sabar, antrean dengan cepat bergerak menuju nomor 100… But my secret reward was this: waktu gue berhasil menyalakan handphone si ibu, greeting yang menyapa gue di handphone itu bertuliskan: God Bless You.

Happy new year, everyone!

11 thoughts on “Blessed

  1. huehuehue, ibu yg lucu🙂 though she may not read the greeting message on that mobile when you turned it on, gue yakin dia juga merasa God blessed her cuz you helped her that day😉
    have a happy year ahead!!
    dan nokia lo rusak knapa tuh?:-/ hope it's ok now..

  2. dengan kata lain, orang sabar disayang Tuhan….. kesabaran menunggu giliran, kesabaran membantu si ibu, dll dll kesabaran, dapat “blessing in disguise” (terang-terangan, ding, sampai ada tulisannya,hehe) …. SO NICE !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s