A Bunch of Cliches

Pada suatu malam saat gue menyuapi Freya sebelum tidur, Playhouse Disney Channel sedang memutar salah satu episode “Bear in the Big Blue House”. I didn’t pay attention to all the details, tapi pada suatu ketika muncul tulisan MITSAKES yang kemudian diralat menjadi MISTAKES. And then the Bear said, “Everybody makes mistakes.” Hmm… Another cliche, you’d think. Yep. But come to think about it, there must be some truth in those “cliches”… Otherwise you wouldn’t hear them so often when you’re stuck in a problem and your friends (not just one) start to use those cliches to calm/cheer you down/up. Here’s some:

NOBODY’S PERFECT
Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Tidak ada orang yang sempurna.” Ya iyalaaah, you’d say, emangnya Tuhan… But next time you hear this phrase, just think about it for a couple more seconds. Leave God out of the picture. The truth is, semua orang punya konsep yang berbeda tentang “sempurna”. It’s like when you find your “soulmate”, or “the one”. S/he may not be the most beautiful/handsome person on earth, but s/he’s just right for you. But then you put the element of time in the equation. Over time, what once seemed perfect might not be perfect anymore. Why? Because PEOPLE CHANGE (another cliche), that’s why. Bukan cuma berarti ganti model rambut, atau tambah tua… Tapi apa yang dialaminya, sehingga yang tadinya mungkin gak penting jadi penting dan kebalikannya. Sehinggaaaa, konsep sempurna kita juga berubah…. Ya jelas aja mau sampe kapan pun gak akan ada deh kondisi, orang, atau apa pun yang bisa dibilang sempura alias perfect secara objektif. Nah, kalo mau semuanya perfect a la manusia, kayaknya yang perlu diganti adalah expectation kita, atau setidaknya cara menyikapi expectation kita sendiri.

EVERYBODY MAKES MISTAKES
This one is my favorite. Bukan untuk pembenaran tiap kali melakukan kesalahan atau jadi tameng untuk berlagak pilon kalo melakukan kesalahan lho… But I personally like this one better than the first cliche. It feels more human. Hehehe… Oya, jadi lupa deh nerjemahin… Kalo di bahasa Indonesia, this cliche is “Semua orang membuat kesalahan/kekeliruan”. Coba pikir deh, dalam sehari ini aja udah berapa kesalahan/kekeliruan yang kita buat? Nggak usah yang gede2, tapi sebangsa nggak sengaja numpahin minuman (seperti contoh di Bear in the Big Blue House itu), mau ngetik “U” yang kepencet “I”, dll. Nggak perlu ngaku di sini, tapi boong deh kalo gak pernah (atau mungkin loe perlu membuat sekte dan mempromosikan diri sebagai tuhannya). Hehehe…
Gue suka bilang bahwa hidup ini seperti sekolah (banyak jugalah yang bilang begini, bukan gue lho yang mencetuskan). Tiap murid adalah individu yang unik, sehingga pelajaran yang diberikan sesuai dengan keunikan murid2 tersebut. Sebenernya saat sekolah adalah waktu yang paling boleh melakukan kesalahan. “NAMANYA JUGA (another cliche..) lagi belajar…” Masa sih kita mau marah2 sama bayi 5 bulan kalo belom bisa jalan? Lho, tapi kan kita bukan bayi, you’d say. Kata siapa, I’d say. Hehehe… Dibanding umurnya bumi aja kita cuma sepersekiannya kok. Jadi ya, wajar kalo ada orang yang bikin salah… wong kita sendiri juga kok. Cuma sekali lagi, bagaimana kita menyikapinya aja. Ada yang kalo orang bikin salah ke kita, kitanya diem aja jadi yang bikin salah gak tau… Seakan2 selesai masalahnya, padahal dia jadi gak naik2 kelas (karena gak tau bahwa “jawaban ujiannya”, walaupun udah diuji ulang 100x, salah), dan kita juga memendam kesel sendiri… merasa mestinya dia tau sendiri dong kalo salah… Di lain sisi, ada juga yang kalo orang bikin salah sedikiiiit aja, langsung deh diributin. Jadinya dia takut kalo mau ngapa2in, takut salah… Padahal udah jelas2 “Semua orang membuat kesalahan/kekeliruan”, jadi as long as you’re “orang”, boleh-boleh aja (asal kalo udah tau salah jangan diterusin, ntar dikemplang sama Yang Di Atas). Anyway, semua orang di muka bumi “entitled” untuk berbuat salah. Jadi sebesar apa pun kesalahan kita (besar kecil itu relatif lho tiap orang), berdamailah dengan diri sendiri. Lanjutkan aja hidup ini apa adanya. Tenang aja, kalo disetrap di depan kelas banyak temennya kok!

NOTHING IS IMPOSSIBLE vs. IMPOSSIBLE IS NOTHING
Atau dalam bahasa Indonesia “Tidak ada yang mustahil” versus “Mustahil itu OMONG KOSONG”. Hehehe… Beda yaaa, ternyata… Tapi dua2nya bener kok… Cuma, kalo gue sih lebih suka yang terakhir karena lebih motivational… Kalo yang pertama adalah stating the truth, yang kedua punya attitude. Dan lagi2 memang “bagaimana kita menyikapi” itu adalah one of the basic survival tools dalam survival kit kita di bumi, at least buat gue lhooo…

Udah ah, dah malem nih… Mau nyusul Freya tidur… Oh ya, ada PR nih satu cliche lagi… Intinya sih bukan gue yang mencetuskan, tapi copywritten by me dan kalo suka email2an sama gue liat aja di bagian signaturenya: HAPPINESS IS WITHIN YOURSELF!

Selamat tidur!

5 thoughts on “A Bunch of Cliches

  1. iya, La. Aku sering ketemu klise2 macam itu. Tapi harus 'ngolah' beberapa kali untuk get the point dari si pembuat statemen. Artinya butuh keterampilan interpersonal relationship dan semacam empati. Pernah suatu masa, ada kampanye presiden yang ngeluarin statemen “peduli rakyat kecil” sambil mengacungkan tangannya yang penuh gelang emas berkilauan. Makna “peduli” jadi sangat tereduksi di situ. hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s