Mengapa Memberi Itu Susah?

Gue juga belom tau sih apa jawabannya… Cuma beberapa hari lalu gue teringat sama lagu masa anak2 yang mungkin selama ini kita inget dan hafal tapi nggak pernah tersentuh sama liriknya:
Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

More often than not, kita hanya mau memberi kalau ada imbalannya.
Dari mulai hal sepele: lagi di bis ada pengamen, kalo lagunya bagus gue kasih kalo nggak sorry aja…
…ke hal nggak terlalu sepele: ada kerjaan sampingan tapi gue gak ada waktu untuk kerjain, kalo ada komisinya gue kasih temen gue tapi kalo nggak mending gue bela2in kerjain… begadang2 deh…
…ke hal2 yang suka bikin terperangah: seorang ibu menyuruh anaknya bercerai karena nggak rela harta keluarga jatuh ke tangan si menantu nantinya (sinetron bangeeet hihihi).

Sebagai manusia gue juga gak luput dari hal2 semacam itu. Tapi bodoh namanya kalo udah tau salah tapi terus2an dipelihara. Sesekali jatuh dan terperosok itu wajar, tapi kalo udah tau jalannya licin atau berlubang2 tapi tetep keukeuh lewat situ, gue gak tau lagi deh mesti disebut apa…

Ini perlu banget gue inget, bukan cuma hari ini tapi kalo bisa for the rest of my life. Bukan cuma karena sekarang C-Choir mau bikin pasar murah untuk menggalang dana sumbangan, yang berarti gue bisa menyumbangkan barang2 gak kepake (sekaligus ngebersihin rumah–tuh kan ada maunya juga…). Gue inget pengalaman tahun lalu waktu gue sendiri terjun ke lapangan pada saat C-Choir mengadakan pasar murah di Marunda, Cilincing.  Barang2 kita yang ya ampuuunn, buat kita tuh udah nggak ada bentuk apalagi harganya, buat mereka jadi rebutan! Pengalaman itu sangat berkesan bagi gue, bahwa apa pun yang kita punya asal kita berikan dengan sukarela balasan dari Tuhan adalah sukacita yang luar biasa. Now, how can you top that?

Sesuatu yang dikatakan oleh Bapak Pendeta tadi malam di gereja berhasil membuat gue mikir. Kira2 begini:
“To accept Jesus costs you nothing, to believe in Jesus costs you something, but to follow Jesus costs you everything.”

Siapkah kita untuk memberi?

5 thoughts on “Mengapa Memberi Itu Susah?

  1. Yang paling bikin bahagia memang kalau bisa memberi. Apalagi kalau bisa bermanfaat, dan bukan untuk imbalan pengen dianggap murah hati. Aku suka sedih kalau ada yang udah sedekah,malah pengumuman ke orang-orang..Kayak waktu musim banjir beberapa waktu yang lalu tuh, bete banget hasil sumbangan tiap rumah diumumin lewat corong mesjid..Boleh aja sih, tapi ga usah sebut nama..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s