Semua Gara-gara Coriander Leaves

Kalian pasti sudah tahu betapa cintanya gue sama ‘herb’ satu ini: coriander leaves atau cilantro alias daun ketumbar.

Alkisah, salah satu makanan yang gue suka gara2 ada coriander leaves-nya adalah Thai Garlic Pizza dari PapaRon’s (coba, di mana lagi ada pizza kayak begini?). Kalo gak salah pertama kali baca di entry-nya Yasha dan kebetulan waktu itu gue masih tinggal di Pondok Pinang sementara training center PapaRon’s ini di [kompleks ruko] Pondok Pinang Center. Jadi pada suatu hari gue minta Victor bawain pulang pizza ini… Tentu saja, jatuh cinta pada gigitan pertama. Hehehe… Setelahnya gue sesekali mampir ke training center situ untuk beli, atau lagi2 minta Victor bawain pulang setelah ngantor (waktu itu dia masih kerja di Extremeline).

Setelah pindah ke Mampang dan PapaRon’s terdekat adalah di Warung Buncit (sebelum masuk Siaga Raya) dan Tendean (di Tendean Plaza). Secara geografis memang yang di Tendean lebih dekat dengan tempat tinggal gue, tapi secara DLLAJR jauh lebih convenient bagi gue untuk mendatangi yang di Warung Buncit.

Singkat cerita, beberapa kali pengalaman dine-out atau delivery dari sana sering mengecewakan: tidak ada tanda2 coriander leaves pada Thai Garlic Chicken-ku! Pertama kali gue menganggap itu kecelakaan. Kedua kali gue pikir mereka salah dengar, bahwa pada saat gue bilang “Jangan lupa coriander leaves-nya” atau “Coriander leaves-nya ekstra ya” mereka dengernya “Nggak usah pake coriander leaves ya”.

Pada kesempatan sebelum puncak dari cerita ini, gue dan keluarga pernah makan di PapaRon’s WB dan tentu saja pesen Thai Garlic Chicken sambil minta ekstra coriander leaves. Yang terjadi? Tentu saja tidak ada tanda2 coriander leaves. Bodohnya, gue masih aja tetap berpositive thinking bahwa mungkin mereka lagi2 salah denger (cotton buds, anyone?)

Puncaknya adalah ketika beberapa minggu lalu gue ke sana lagi sekalian ngajak Freya main di playground-nya kejadian yang sama berulang kembali. Hmmm, keledai ini sudah terlalu sering terperosok di lubang yang sama (siapa keledainya? gue atau mereka ya?).  Wah, ini udah keterlaluan. Saatnya mengeluarkan jurus “Jangan diam saja” (halah, telat!)

Gue panggil salah seorang waitress-nya dan nanya kenapa tidak ada coriander leaves di pizza gue sementara gue jelas2 tadi minta ekstra. Si waitress undur diri, katanya untuk nanya. Gue tungguin dong… [Insert gambar capung lewat di sini] Saat capungnya udah lewat berkali2, gue panggil waitress lain dan kembali bertanya. Kali ini gue juga tambahin tanya apakah emang coriander leaves-nya gak ada sehingga gak ada coriander leaves-nya di Thai Garlic Chicken gue? Dan gue bilang ini mesti ditanyain beneran karena tadi gue udah nanya ke sejawatnya tapi gak balik lagi ke gue.

2 menit kemudian si waitress kucluk2 dateng bawa menu.
Katanya, “Ibu mau pesen pizza yang lain mungkin?”
Maksud???
Gue tanya, “Jadi maksudnya gimana? Ini salah denger makanya gak ada coriander leaves-nya atau memang lagi nggak punya stock coriander leaves?”
Jawabnya, “Iya Ibu, sedang tidak ada.”
Gue, “Ya harusnya kasitau sebelom pesenannya dibikin dong. Kan jelas2 di menu sini ditulis bahwa Thai Garlic Chicken berisi bla3x termasuk coriander leaves. Jadi kalo ada yang gak ada ya ngomong, jadi saya bisa mikir untuk ganti yang lain.”
Dia, “Iya Bu, soalnya kita juga gak diinform sama kitchen-nya. Jadi Ibu mau ganti pesanan?”
Gue, “Nggak, saya nggak mau ganti karena saya ke sini untuk Thai Garlic Chicken ini. Tapi harusnya tadi kasih tau dulu…”

Well, you kebayanglah kalo gue udah merepet kayak apa. Sementara dia sibuk mengalihkan kesalahan ke “kitchen” yang nggak meng-inform dia.

Hari2 berlalu, insiden itu mulai tenggelam dalam keempukan sel2 kelabu gue. Sampai pada suatu hari Fabee nulis entry-nya tentang Buy 1 Get 1 Free-nya PapaRon’s dan menyertakan alamat website PapaRon’s. Iseng2 ke situ dan nemu halaman Customer Feedback (kecil, di bagian bawah) di mana gue bisa melayangkan keluhan gue ttg insiden berulang di PapaRon’s Warung Buncit itu. Maka menulislah gue…

Beberapa hari kemudian HP gue berdering dari nomor tak dikenal, tapi sutra-lah gue angkat juga. Ternyata marketing PapaRon’s pusat… Dia nerima complain gue itu dan minta maaf atas kejadian itu. Dia juga berjanji akan ngirim sesuatu buat gue sembari menanyakan alamat rumah gue. Sehari sebelum Lebaran, gue kedatangan kiriman surat permohonan maaf dan Thai Garlic Chicken ukuran large dengan visible–gue ulang–VISIBLE coriander leaves! Damn! To think that all these times yang gue makan tuh gak ada apa2nya dibanding ini… Maka malam itu hingga keesokan paginya gue ngunyah pizza dengan gembira.

Cerita selesai? Belum. Turned out that PapaRon’s Warung Buncit adalah franchise, bukan cabang seperti yang di Tendean, maka surat komplen gue diteruskan ke pemilik resto ybs. Jadi setelah lebaran tiba2 ada lagi yang nelpon gue dan minta maaf, plus ngirimin Thai Garlic Chicken ukuran large juga! Buset, gue sampe mikir apa jangan2 I’m the only person EVER to complain to them ya? Kok perlakuannya ‘istimewa’ banget gitu lho… Hahaha… Tapi maaf-maaf aja nih, kiriman dari Warung Buncit ternyata emang gak setara standard-nya dengan yang dikirim dari pusat. Ada sih, coriander leaves-nya… tapi malu2 dibandingin yang sangat generous dari Pondok Pinang Center. Trus yang dari Warung Buncit crust-nya ditaburin sesame seeds–which I don’t like, by the way.

Bottom line is, seperti yang pernah gue tulis di entry gue entah kapan, untuk urusan seperti ini JANGAN DIAM SAJA. Tuh, buktinya gue dapet makan gratis 2 kali.

10 thoughts on “Semua Gara-gara Coriander Leaves

  1. asik deh dapet gratis pizza sampe 2 kali.. hihihi.. btw, gue juga demen sama si daun satu itu.. apalagi dimakan sama nasi ayam hainam yang gue tau loe juga suka banget (pasti salah satunya karena si corriander leaves a.k.a cilantro yah? hehehe)

  2. oh iya, itu gue tau.. kayaknya sih sama deh.. soalnya logonya juga sama sepertinya.. cuma gak tau deh kalo cabang itu rasanya sama atau ngga. lagi gue dah cukup lama sih gak makan di Fajar.. entah masih konsisten atau ngga :p

  3. hihihi.. gw malah jarang bgt makan makanan pake daun ketumbar di jakarta, paling kalo makan tom yum.. Tp disini, emang jadi sering, berhub gw sering bikin masakan dgn buku resep makanan asia yang entah kenapa selalu menyertakan si corriander itu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s