Pencerahan di Hari Minggu

Selagi “asyik” bergumul dengan isu “Kenapa Memberi Itu Susah?” dan keluh kesah gue ttg betapa orang2 mendadak jadi buta-bisu-tuli dlsb ketika dihadapkan dengan “kesempatan” charity, akhirnya kemarin sempat ke gereja juga after all this time.  And strangely enough, topiknya seakan2 menjawab kegundahan gue.

Intinya sih begini… Selama ini orang2, termasuk gue mungkin ya, memiliki alasan (kalo gak mau disebut prinsip) yang salah dalam memberi (memberi di sini bisa dalam bentuk apa pun ya: uang, tenaga, bahkan mengasihi).

Selama ini “Kita memberi SUPAYA…”
padahal seharusnya “Kita memberi KARENA…”

“Ah, ini karena lu copywriter kali… beda satu kata doang, sama temen ini,” some might say.
“Lah justru karena gue copywriter, gue kasitau nih… 1 kata, bahkan 1 huruf aja, can make a whole lot of difference!”

Jadi begini ceritanya:
Selama ini kita susah memberi karena kita memberi SUPAYA mendapat imbalan. Sehingga logikanya adalah kalau tidak ada imbalan, ya tidak memberi. Masuk akal? Masuk…

Tapi dalam ajaran yang gue ikuti, lain ceritanya. Intinya adalah kita memberi KARENA kita bersyukur telah diselamatkan dan dicukupkan segala sesuatunya oleh Tuhan. Tanpa kita minta, semua sudah dipersiapkan oleh Tuhan yang terbaik untuk kita. Jadi yang kita lakukan dengan memberi adalah berterima kasih atas berkat yang sudah diberikan, menjadi saluran berkat bagi Tuhan, dan menjadi berkat bagi orang lain.

Analoginya adalah kita seperti kran air yang bisa dibuka dan ditutup. Kalo kita selama ini dapat kiriman air (baca: berkat) begitu derasnya dari Tuhan tapi kita menutup kran rapat2, lama kita sendiri yang meledak. Tapi kalo kita buka kran, berkat Tuhan dapat tersalurkan ke tempat2 yang sesuai dengan kehendakNya dan kita sendiri merasa lega karena tidak lagi tersumbat. Hmm… Bayangin rasanya kalo di padang gersang tiba2 timbul mata air seperti ini… Pasti segar dan sejuk banget rasanya…🙂

Akhir kata, yang gue tulis di sini bukan berarti mudah untuk dilaksanakan. But to acknowledge it is the first step. Mudah2an banyak yang ikut tercerahkan seperti saya.

6 thoughts on “Pencerahan di Hari Minggu

  1. hehhehe .. bener banget mbak … mungkin hampir disemua believe punya prinsip yang sama .. karena kita selalu mendapat nikmat setiap hari, jadi kita harus selalu berbagi supaya nikmat itu juga bisa dirasakan oleh orang lain .. dan diajaranku juga dikatakan, bahwa semakin kita memberi, bukan malah berkurang yang kita dapatkan, tapi nikmat itu malah akan berlimpah … simple thing nya sih senyum aja deh … aku ngerasain banget, hanya karena aku suka tersenyum dengan siapa saja, bahkan dengan orang-orang yang ngga aku kenal … banyak orang yang jadi ramah sama aku, dan klo dimintain tolong, ga susah .. dan klo aku nyusahin mereka (contohnya sih OB dikantor, biasanya mereka lagi ngepel2, aku becek2in :D) dengan tersenyum manis, aku bilang, ” sorry ya mbak bikin basah lagi” … dan mereka dengan tersenyum manis bales, ” gpp kok mbak” … nikmat khan? Pdhl mungkin dalam hati gondok juga yah? :)) Kok jd ga nyambung😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s