[Storyline Draft 1] Gadis Korek Api

Sehubungan dengan rencana C-Choir mementaskan drama musikal Gadis Korek Api di penghujung tahun 2008 ini, gue dimintai tolong Anthes untuk bikin sinopsis ceritanya.  Entah kesambet setan apa kok malah gue jadi bikin “cerpen” begini ya? Hahaha… Tapi biarlah, itung2 latihan menulis “indah” dalam bahasa Indonesia… Ini baru draft 1 versi gue atas dongeng tersohor karya H.C. Andersen ini, diadaptasi sedemikian rupa agar lebih banyak moral yang disampaikan dan bisa diselipin banyak lagu.  Hehehe…  Selamat membaca!

Sepanjang ingatannya, GADIS (wanita, 15 tahun) telah menjajakan korek api di kota ini seumur hidupnya.  Tepatnya, sejak ayah dan ibunya menjadi korban saat kota ini dibakar musuh di masa perang.  Saat itu Gadis baru berusia lima tahun dan seorang KAKEK (pria, 70 tahun) yang kehilangan sanak keluarganya jatuh iba melihat anak kecil yang malang itu.  Bersama-sama mereka hidup di pinggir sebuah hutan, tidak jauh dari kota itu, dalam kemiskinan.  Dengan usianya yang semakin renta, Kakek hanya mampu mengumpulkan dahan dan ranting dari hutan untuk kemudian dibuat menjadi korek api.  Tugas Gadis-lah untuk menjual korek api itu ke kota di sore hari, saat para penduduk kota membutuhkan terang.

Sore itu sungguh luar biasa dingin dan Gadis tidak siap menghadapi cuaca buruk itu.  Ia hanya mengenakan selembar pakaian tipis tanpa topi untuk melindungi kepalanya.  Bahkan sandal yang tadi ia pakai ketika berangkat dari rumah terlepas sebelah ketika ia terburu-buru menyeberang jalan dan hilang entah ke mana.  Ingin sekali Gadis kembali pulang dan meringkuk di tempat tidurnya.  Bukan berarti rumahnya nyaman dengan perapian yang selalu menyala, namun setidaknya ia tidak harus mengarungi jalan-jalan di kota ini dalam cuaca yang kejam.  Tapi tidak, itu tidak bisa dilakukannya.  Kalau ia kembali ke rumah dengan tangan kosong, berarti besok mereka tidak bisa makan.  Gadis mungkin masih bisa bertahan sehari dengan perut kosong, tapi tidak demikian halnya dengan Kakek.  Maka Gadis kembali berjalan menyusuri jalan-jalan yang sudah begitu akrab baginya, dengan hanya sebelah sandal pada kakinya.

Salju turun.  Sempurna sekali bagi penderitaannya.  Sementara Gadis mulai menggigil kedinginan, para penduduk kota mulai berlarian keluar rumah, bersorak-sorai menyambut datangnya salju.  Anak-anak kecil menjerit-jerit kegirangan, berlarian ke sana ke mari menikmati .  Orang-orang dewasa sibuk memastikan anak-anak mereka tetap hangat dengan memakaikan mereka berlapis-lapis pakaian.  Gadis merapatkan tubuhnya dan kembali berjalan menuju pusat kota yang ramai, tempatnya biasa menjajakan korek apinya.

Tiba di pusat kota, banyak orang sibuk menghias jalan dan toko-toko.  Oh, pantas saja salju turun.  Natal sudah dekat rupanya.  Kebetulan sekali.  Orang-orang ini pasti membutuhkan korek api untuk memenuhi rumah mereka dengan cahaya.  Tanpa menghiraukan butiran-butiran salju yang memenuhi rambutnya dan terpaan angin dingin yang membuat pipinya memerah, Gadis menjajakan korek apinya dengan riang gembira.

Seluruh penduduk kota itu sedang dalam suasana hati yang riang.  Mereka mengangguk kepada Gadis, tapi tidak seorang pun yang benar-benar membeli korek apinya.  Tapi tak apa-apa, ia hanya perlu berusaha lebih keras, pikirnya.  Serombongan anak kecil mengumandangkan lagu-lagu Natal nan indah melewatinya.  Gadis ingin sekali ikut bernyanyi dan menari mengikuti mereka, namun matanya tertumbuk pada seorang ANAK KECIL (pria/wanita, 8-10 tahun) yang sedang menangis dan tampak menggigil kedinginan di sudut sebelah sana.

Gadis menghampiri anak kecil lalu duduk di sebelahnya.  Ia memeluk anak kecil itu agar hangat dan sambil terisak-isak anak kecil itu menumpahkan isi hatinya.  Betapa ia merindukan ayah ibunya yang entah di mana, terlebih saat Natal seperti ini di mana semua orang berkumpul dengan keluarga mereka.  Gadis teringat akan ayah-ibunya sendiri, wajah-wajah kabur yang sering berusaha diingatnya di malam-malam sebelum ini.  Anak kecil dalam pelukan Gadis masih menggigil.  Pakaian Gadis yang tipis saja tidak mampu menghangatkan tubuhnya, bagaimana ia berharap bisa menghangatkan anak ini?

Oh, tiba-tiba ia teringat.  Ia punya sumber kehangatan itu dalam kantong celemeknya.  Sejenak ia ragu untuk menyalakan korek apinya, karena itu berarti barang dagangannya akan hangus dengan sia-sia.  Namun anak kecil yang semakin kedinginan itu membuat hatinya pedih.  Berapalah harga sebatang korek api ini dibanding kehangatan yang dapat diberikannya kepada anak kecil yang sungguh membutuhkan ini.  Maka dengan cepat Gadis menyalakan sebatang korek api dari kantongnya.  Kehangatan menjalar pada tubuh mereka dan cahaya menyelimuti mereka.  Untuk pertama kalinya anak kecil itu tersenyum, air matanya berhenti mengalir, dan ia mulai bercerita tentang kenangan-kenangan indahnya bersama ayah-ibunya.  Gadis mendengarkan cerita anak itu dengan penuh perhatian, kenangan-kenangan manisnya sendiri menyeruak dari benaknya, seakan hidup di dalam pendar cahaya korek apinya.

Tak terasa nyala api telah sampai pada ujung korek api dan dengan segera cahayanya padam, begitu pula dengan kenangan-kenangan indah si Gadis.  Sebagai gantinya, di hadapan mereka berdiri sepasang SUAMI (pria, 30 tahun) ISTRI (wanita, 25 tahun) yang merasa kasihan dengan keadaan mereka yang kedinginan.  Suami istri itu mengajak mereka berdua untuk ikut ke rumah mereka, namun dengan halus Gadis menolak.  Ia masih harus menjajakan korek apinya dan Kakek tentu mengharapkannya pulang ke rumah.  Maka ikutlah si anak kecil bersama pasangan suami istri itu ke rumah mereka yang hangat, di mana ia akan dimanjakan seperti anak mereka sendiri, dengan pakaian dan mainan serta hidangan untuk disantap tiga kali sehari.  Sebuah akhir yang bahagia untuk anak yang malang itu, pikir Gadis.

Malam menjelang, Gadis pun melanjutkan menjajakan korek apinya.  Lonceng-lonceng gereja mulai bergema di seantero kota, mengingatkan penduduk untuk datang ke rumah-Nya.  Orang-orang bergegas lalu lalang, kereta-kereta kuda bergemerincing melewatinya.  Tidak ada orang yang sempat membeli dagangannya, tatapan mereka lurus ke depan.  Gadis mulai lapar, dan dengan langkah gontai ia menuju ke depan sebuah toko roti, tempatnya biasa beristirahat sejenak untuk sekadar menempelkan hidungnya ke jendela toko untuk mengamati bentuk-bentuk roti yang indah dan, kalau sedang beruntung, mengumpulkan remah-remah roti kemarin yang belum sempat basi sebagai oleh-oleh untuk Kakek.

Malam itu toko roti tersebut telah tutup.  Jendela-jendelanya gelap, dan tidak ada remah-remah yang bisa dibawanya pulang.  Tempatnya biasa melepaskan lelah di depan toko roti itu sudah ditempati seorang PENGAMEN (pria, 20 tahun) buta.  Pengamen itu tampak lesu, duduk termangu menopangkan dagu pada gitar tuanya.  Gadis duduk di sebelahnya, ikut termangu.  Menyadari kehadiran seseorang, Pengamen menyapa Gadis dan bertanya apakah Gadis mau mendengarkannya bermain gitar dan menyanyi karena seharian ini tidak ada orang yang mendengarkannya, apalagi memberinya sekeping-dua keping recehan.  Gadis bercerita kepada Pengamen bahwa dirinya tidak punya uang untuk membayar Pengamen.  Dagangannya sendiri belum laku dan ia lapar.  Tak menyadari bahwa pengamen itu buta, ia mengeluhkan bahwa biasanya ia hanya bisa memandangi roti-roti di toko ini, dan pada hari ini itu pun tidak bisa dilakukannya.  Pengamen mengangkat wajahnya dan Gadis merasa sangat malu karena dilihatnya si Pengamen itu buta.  Betapa dirinya tidak bersyukur! Saat lapar pun Pengamen itu tidak akan bisa memandangi roti-roti seperti dirinya.  Untuk menebus rasa bersalahnya, Gadis menyalakan sebatang korek api untuk berbagi kehangatan dengan Pengamen dan berjanji akan mendengarkannya.

Ajaib! Ketika Pengamen mulai bernyanyi, cahaya korek apinya berpendar amat terang dan Gadis dapat melihat segala keindahan di dunia ini.  Udara dipenuhi aroma roti yang baru keluar dari panggangan dan seluruh kota dan isinya tampak ikut bernyanyi dan menari mengikuti alunan musik Pengamen.  Gadis terperangah melihat semua keindahan ini, yang semuanya berasal dari kenangan dan impian si Pengamen.  Rasa laparnya sirna berganti rasa syukur dan hati yang riang.  Sayang sekali, dalam beberapa menit nyala korek api itu padam dan pemandangan indah tadi mulai hilang ditelan gelap dan dinginnya malam.  Namun TIGA PEMUSIK (2 wanita dan 1 pria, sekitar 25-30 tahun, masing-masing membawa alat musik) di depan mereka tidak ikut hilang.  Gadis menggosok-gosok mata untuk meyakinkan diri.  Tiga Pemusik itu masih berdiri di sana.  Salah satu dari mereka bertanya apakah Pengamen mau bergabung dengan kelompok musik mereka yang berkelana dari kota ke kota.  Pengamen tak dapat memercayai pendengarannya.  Tentu saja ia mau! Walaupun Gadis tidak ikut, ia ikut bahagia.  Toh, tidak mungkin ia bisa berkelana dari satu kota ke kota lain.  Bagaimana dengan Kakek?

Maka Gadis pun kembali berjalan menjajakan korek apinya.  Salju yang semakin tebal membuatnya sulit berjalan.  Sandalnya yang hanya sebelah tidak lagi berguna.  Ia memberikannya kepada seorang PENGEMIS (pria/wanita, 40 tahun) berkaki satu yang kebetulan ia lewati di salah satu sudut kota.

Angin yang semakin kencang membuat tulang-tulangnya ngilu.  Malam semakin larut, kota semakin sepi.  Semua orang berada di rumah-rumah mereka yang hangat, berkumpul bersama keluarga mereka.  Gadis teringat akan Kakek yang pasti sedang menunggunya di rumah, namun ia juga merasa sangat bersalah belum juga berhasil menjual korek api barang sebatang.  Cuaca yang kian tidak ramah mengalahkan Gadis.  Ia terpaksa berhenti berjalan karena seluruh tubuhnya terasa beku dan menggigil.  Ia menyalakan sebatang korek api dengan harapan cahayanya cukup membuatnya hangat dan kuat untuk melanjutkan perjalanan, walaupun itu berarti ia harus pulang dan membawa kabar buruk untuk Kakek.

Ketika cahaya mulai berpendar dan Gadis merasa cukup hangat, ia memandang ke langit dan dilihatnya ada bintang jatuh.  Ia teringat cerita Kakek bahwa pada saat sebuah bintang jatuh dari langit maka itu berarti ada arwah yang terbang ke surga.  Gadis mendoakan agar arwah itu sampai dengan selamat ke surga, sementara ia tidak tahu bahwa pada saat itu arwah Kakeknya-lah yang berangkat ke surga.

Dengan cepat nyala korek itu habis, maka Gadis kembali menyalakan sebatang untuk memberinya lebih banyak kehangatan.  Sebentuk wajah muncul di hadapannya: wajah Kakek.  Gadis merasa amat bahagia karena ia mengira telah sampai di rumah dengan selamat dan bertemu dengan Kakek.  Perapian di rumah itu menyala, pohon natal berdiri tegak dengan hiasan-hiasannya yang mengagumkan.  Gadis langsung menceritakan pengalamannya hari itu, namun Kakek hanya duduk di kursinya, tersenyum dalam diam, tidak menanggapinya seperti biasa.  Saat cahaya korek api mulai meredup, Kakek tampak berjalan meninggalkannya.  Gadis merasa amat sedih dan sendirian.  Ia tidak ingin Kakek pergi.  Dengan terseok-seok ia berusaha mengikuti Kakek sambil memanggil-manggilnya.  Sebatang demi sebatang ia nyalakan korek apinya, hingga di penghujung korek api terakhir Kakek menoleh, merentangkan tangannya dan memeluk Gadis.

Salju yang turun mulai menipis.  Matahari musim dingin bersinar lemah, tapi cukup cerah untuk sebuah pagi di bulan Desember.  Kota mulai menggeliat hidup, ceria menyambut Natal.  Tepat di bawah pohon natal raksasa di tengah kota, beberapa orang tampak mengerumuni sesuatu.  Di sana Gadis, si penjual korek api, terbaring kaku.  Satu lagi bintang jatuh tadi malam tanpa satu pun penduduk kota menyadarinya, kecuali Anak Kecil, Pengamen, dan Pengemis berkaki satu yang tadi malam merasakan terangnya.

5 thoughts on “[Storyline Draft 1] Gadis Korek Api

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s