Dari Dua Sisi

Nonton-nggak-nonton-nggak-nonton-nggak-NONTON!

Akhirnya gue jadi juga nonton RENT produksi 42nd Street Production & Jakarta Broadway Team di Teater Kecil, TIM kmaren. Dari yang tadinya takut bentrokan sama jadwal operasi, trus setelah tahu nggak bentrok ngelirik dompet gak ada isinya, akhirnya karena Nyokap tertarik nonton juga jadi dapet loan. Itu juga dari mau nonton 100ribu, taunya tinggal tersisa 1 tempat duduk yang di tengah (bukan wing), sisanya wing. 75ribu udah abis (tapi males juga soalnya terlalu depan). Akhirnya nonton yang 125ribuan. Gaya banget, padahal ngutang. Hihihi…

Anyway, seperti biasa gue akan bilang bahwa gue gak jago mereview, jadi mungkin ini catatan kecil aja dari kacamata gue. Untuk yang mau tau story-nya RENT baca aja di sini (males nulis panjang2).

Dari Depan Layar

  • Reaksi pertama kali waktu tirai panggung dibuka, “Ya ampun, itu kursi gak ada yang mendingan apa?” Hihihi… Soalnya setting panggung untuk pertunjukan musikal ini minimalis banget… bukan dalam arti minimalis “keren” tapi “seadanya”. Bagi gue yang pernah nonton filmnya, gue mencoba membayangkan apartemen sederhana di New York. Tetep aja kayanya kursinya bukan kursi sewaan buat kondangan gitu bukan? Hihihi… Kayanya mendingan kursi kayu yang jelas gak ada merek Chitose-nya deh.πŸ˜€
  • Most of the time gue gak nangkep dialognya… karena banyak pemeran yang ngomong cepet banget dan logat Inggrisnya nggak familier dengan kuping gue. Analoginya kayak gue lagi pesen makanan di McDs di Singapore, gue harus berkali2 bilang “Sorry?” atau “Excuse me?”. Sayangnya di pertunjukan mana bisa. Untung gue udah tau jalan ceritanya.
  • Mutu vokal masih ngejomplang. Most of them, menurut gue, suaranya pas2an. Banyak meleset nembak nada. Mungkin juga karena begitu banyak lagu yang harus dibawakan, sambil nari2 pula, stamina merosot.
  • Pada bagian 1 (sebelum intermission) most of the time bisa dibilang gue sama sekali tidak tergugah secara emosi oleh pertunjukan mereka. Baru menjelang penutup bagian ini ada satu lagu yang mereka nyanyiin bareng2 (La Vie Boheme). Di situ baru deh rasanya mulai ada “greget”.
  • Di bagian ke-2, baru kerasa lebih “hidup”, walaupun pada kenyataannya ada lebih dari satu adegan “mati” (Angel yang mati beneran dan Mimi yang mati suri).
  • Overall, walaupun gue impressed setengah mati dengan 2 jam perform in English dan nyanyiin semua lagunya secara live, gue terpaksa harus setuju sama temen gue yang nonton ini semalam sebelumnya bahwa performance mereka hawanya seperti high school musical.

Mengecewakan? Tunggu dulu…

Dari Balik Layar
Sebagai juga seorang performer, nggak fair kalo gue gak mencoba membayangkan persiapan dan apa yang terjadi dari sisi mereka.

  • Seperti tadi gue bilang, gue impressed setengah mati dengan effort mereka menyajikan musikal ini seperti dipentaskan di Broadway sana. Artinya, dalam bahasa aslinya (Inggris), dengan script aslinya, dengan repertoire lengkap yang dibawakan secara live, plus musik pengiring yang juga live. Perlu dicatat, pemeran dalam musikal ini hanya 8 orang, dibantu 4 orang ensemble, dan 3 penyanyi latar. Ketiga penyanyi latar ini 2 jam berdiri di depan panggung, kalau nggak lagi jadi backing vocals (malah di salah satu adegan jelas2 si Mimi dibantu nyanyinya sama salah satu penyanyi ini), mereka bertugas bikin efek2 suara atau membantu ilustrasi musik (pardon my non-technical terms). Di luar bantuan 4 orang ensemble yang hanya muncul sesekali dengan porsi nyanyi yang gak terlalu banyak, bayangin 8 orang pemeran utama yang dalam 2 jam itu nyanyi gak berhenti-berhenti. Gue langsung teringat betapa cepatnya gue sendiri ngos2an waktu latihan koreografi Candyman/Lollipop/Sh-Boom sambil nyanyi buat konser GKA kita Desember nanti. Wow Factor #1.
  • Ternyata orang2 yang main di panggung juga merangkap produser, sutradara, penjual tiket, dlsb. Jadi inget siapa gitu deh… Hihihi… Ya, mirip2 juga deh dengan C-Choir. Bedanya, orangnya bahkan lebih dikit lagi! Dan mereka bisa bikin pertunjukan macam gini? Yah, walaupun gue gak tau berapa lama mereka mempersiapkan ini, tetep aja… Gue baca di programme booknya, rata2 sih mereka memang punya kecintaan terhadap seni suara dan Broadway musicals, secara khususnya. Kita sendiri di C-Choir kebayang kan, susahnya nyari orang2 seperti ini? Yang gue amazed, dengan orang segitu, bisa nyewa Teater Kecil 2 hari, dengan sound yang relatif OK, sementara penonton juga jumlahnya gak banyak2 amat (kapasitas Teater Kecil gak terlalu banyak dan emang berapa banyak orang sih di Jakarta ini yang doyan nonton musikal?). Untung, impas, atau nombok nih? Wow Factor #2 tuh. Waduh, makin “panas” deh gue… Berarti C-Choir jelas pasti bisa! Tahun lalu aja kita jalan tanpa sepeser pun duit dari sponsor kok! Inget gak?
  • Membaca satu persatu nama dan tanggal lahir mereka yang terlibat dalam pementasan ini… 1987… 1992. Berasa tua mendadak gak sih lo? Udah bukan Wow Factor lagi. Nampar Factor, ini namanya. Yang masih muda aja bisa mewujudkan yang mereka inginkan, apalagi yang udah bangkotan kayak kita (yang katanya udah makan asam garam.. cuih!). Demi kecintaan mereka terhadap Broadway Musicals mereka kerahkan semua yang mereka punya… hasil seperti itu (walaupun masih tetap banyak kekurangan) gak mungkin tercapai kalau latihannya bolong2… atau kedelapan orang itu mangkir dari komitmennya. Produser gak segan2 jadi penjual tiket… music director 2 jam berdiri meng-conduct musicians. Semua kerja keras. Bukan cuma ongkang2 kaki nunggu keajaiban (dan menyalahkan keajaibannya kalo ternyata hasilnya katro).

Well, you know where I’m getting at. You ARE the miracle, guys. If they can do it, there’s no reason we cannot. Stay a blessing to those who need us and let’s get to work already!

17 thoughts on “Dari Dua Sisi

  1. C-Choir has always been a miracle….. always been……..
    Also it has always been you and me……

    gw sarankan dikau share message ini, mungkin bisa dibaca ajah di depan all concert participants……. it's really a good observation of a concert /performance and a teamwork ;o)>

  2. la…kita pinjem musisinya semua yuk..hehe..
    Btw..gue menebak (jd kl salah maap ya..)backingan mereka tuh keren2 la…liat aja sponsornya..dan mereka mayoritas anak2 SMAK 3 Penabur..so i guess, yg mensponsori, yang menonton, yang bantu secara financial adalah notabene sodara, teman, ayah dan ibu berikut perusahaan ayah dan ibu mereka sendiri (hehe)…jd kita kurangnya apa?kurang backingan nih..hihihihi…tetap SEMANGAT tentunya!!!

  3. maksudkyu…kl memang mereka punya segitu keren dan banyaknya backingan, harusnya mereka bisa membuat 200% lebih bagus dari yg kmrn…hehehe…kl kitamah, gue jg gak ngarep..sadar diri ajah..heheheeheh…

  4. btw La para pemainnya import dari NY atau orang indo? Gue sih gak nonton play-nya disini, (mahal bo) jadi cuma nonton filmnya aja. Film-nya menurut gue bagus banget, dengan beberapa original cast main di film tsb. Review play-nya juga disini bagus banget, dan ini termasuk play legendaris yang sangat disayangkan harus berenti.

  5. Mo ikutan review disini… males bikin postingan sendiri:

    Keseluruhan gw setuju sama lala,,,,

    1. Paling ganggu emang bahasa Inggrisnya yg WTF banget. Gw ampe bilang ke Aju, “Ju, kok gw ngedengernya mereka ngomong pake bahasa Cina yah?”….

    2. Casting juga juga lil bit dissapointing… Serba tanggung. Apalagi Angel-nya diperanin cewek. Trus Ben-nya yg harusnya intimidating malah terlihat sangat cupu, haha… Dan yang parah… si pemeran Tom Colins berusaha mati2an bergaya negro tapi malah terlihat ngondek *sigh*

    3. Karena bahasa inggris, pemain juga kurang penjiwaan, meminjam istilah temen gw yang kemaren pulang setelah babak pertama: “mendingan mentasin Ande2 Lumut. Pasti lebih menjiwai”

    4. Vokalnya juga menghawatirkan… apa karena mereka pake headset jd lebih sensitif? Tapi yang jelas suaranya labil dimana-mana… *ga kebayang ntar GKA*. Mereka tampak lebih sebagai Broadway enthusiasts drpd Broadway Singers. Justru stage stealer adalah tiga orang backing vokalnya.

    5. Babak pertama gw kasih nilai 3.5, babak kedua gw kasih nilai 7 *itu karena babak 2 banyakan nyanyinya drpd dialog yg susah ditangkap itu*

    6. Good News: Musicnya keren banget!!! Trus adegan per-sequencenya juga flownya enak.

    Apakah gw mo nonton lagi pertunjukan mereka selanjutnya?? Well.. klo bahasa Indonesia mungkin, kalo bahasa Inggris gw pikir2 dulu…. (Ga kebayang Hairspray-nya kaya apa)

  6. i believe we could do it much better..
    kalau kita mencintai sesuatu pasti kita akan berusaha untuk bisa..sepusing-pusingnya dengan partitur toge (heran kenapa banyak temen-temen g lebih hobi baca toge)..pasti kita akan berusaha untuk bisa..and yiippiee..meskipun masih belepotan tapi kita udah mendingan sedikit-sedikit bisa menaklukkan si toge itu khaaann..

    So..kalau toge ajah bisa kita taklukkan pasti kita bisa naik kelas untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari pada menaklukkan toge…

    TETAP SEMANGAT!! DAN TETAP JAGA KOMITMEN!!

  7. hihihihi..itu juga yang bikin g sampai berkali-kali berusaha keras mengingat film ini..dengan membuka synopsisnya..

    untuk angel yang main cewek sih g no problemo..asal khan dia tau seorang waria itu kayak apa..that's why berkali-kali g bilang…gesture itu ternyata crucial banget yaaahh..tanpa dialog kalau gesturenya kita pas..orang bisa nangkep maksudnya kita.. (include pas bagian ngonde..hahahha..g ampe berkali-kali liat synopsis..takut g yang salah nangkep..)

    pokoknya show ini mengajarkan banyak bangettttt…

  8. setujuuuu! walaupun mengeluarkan duit (well, not actually sih, wong masih ngutang) gue nggak ngerasa rugi nontonnya karena jadi punya referensi apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan nanti.

    Thanks Alpha & Imron atas tambahan reviewnya.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s