6 Months’ Notice

Setelah Second Wake Up Call waktu itu, dokter menyuruh gue USG lagi 6 bulan sesudahnya untuk melihat apakah gumpalannya cenderung membesar atau mengecil. Berdasarkan hasil kmaren masih terlalu dini untuk bisa disimpulkan apakah itu suatu recurrence [of the cancer] atau lain2. Yang pasti belum saatnya diambil tindakan ekstrem seperti mengangkat gumpalan itu beserta/tanpa the remaining thyroid lobe.

6 bulan.
OK.
Artinya bulan November, kalau dihitung sejak saat itu.

“Dikasih” waktu 6 bulan buat gue justru bukan melegakan tapi menegangkan. Di satu sisi memang sih ada suatu keringanan bahwa gue gak harus menghadapi tindakan ekstrem saat itu juga dan hidup dengan konsekuensinya, tapi di mana2 yang namanya menunggu itu gak enak. Apalagi yang ditunggu belum jelas wujudnya… will it be good or bad news?

Sekalipun kata orang (kata kuis sih) gue termasuk orang yang selalu positive thinking, tapi tetap aja pikiran pertama yang menghinggapi gue waktu itu adalah pikiran negatif. Dari mikirin nyari duit (sejujurnya, kanker memang menyebabkan kan-ker alias kantong kering) kalo ternyata mesti operasi lagi (dan untuk membiayai suplemen hormon seumur hidup yang mesti gue konsumsi itu, IF the worst thing happens), mikirin gimana kondisi seseorang setelah gak punya thyroid lagi, apakah bisa berfungsi seperti sediakala atau banyak penyesuaian (karena gue baca selain untuk metabolisme tubuh, thyroid juga mengatur hormon2 lainnya dalam tubuh). Dst, dlsb.

Semua pikiran yang berkecamuk itu eventually brought me down. Ada saatnya gue pingin menertawakan diri karena dengan “gampangnya” mengusulkan judul “Choose Life” buat acara konser amal temen gue (yang memang maksudnya untuk menyemangati para penderita dan survivor kanker). Ketawa karena akhirnya gue ngerasain sendiri betapa susahnya milih untuk hidup, milih untuk menjalani kehidupan seperti biasa dengan awan kelabu menggelayut di atas gue. Yah, ketawa miris-lah pasti, bukan ketawa terbahak2. There were times when I really wanted this to end, dalam arti yang paling ekstrem… What’s the point keeping me here on earth kalau kerjaan gue cuma sakit-sakitan dan ngabisin duit doang? I felt like I’ve become a liability in this family, not an asset anymore.

Weeks come and go… kondisi fisik memengaruhi kondisi mental… atau sebaliknya… Udah gak jelas lagi. Yang pasti kondisi gue kembali naik turun… mulai gampang sakit kepala, flu, dlsb. Sementara perasaan gembira bisa dengan cepat berubah sedih, kecewa, dan marah. Pada suatu saat gue pikir gue mengidap Bipolar Disorder… tapi kalo gue baca2 literatur tentang thyroid, hypothyroid juga bisa menyebabkan mood naik turun. Nggak tau yang mana penyebabnya, tapi begitulah kondisinya.

At some point I realized that I had to sort out my priorities in life. And this time, fast! Yang biasanya jadi omong kosong New Year’s Resolution, kali ini ada deadline-nya, 6 bulan. Gue memutuskan saat ini gue harus konsen nyari duit dan spend as much time with my family. Itu artinya, gue harus ekstra disiplin kerja supaya bisa menabung seandainya yang terburuk terjadi, and family comes first. Next, I need to workout. Gak tau cuma perasaan atau emang kondisi dari thyroid ini, kok kayanya gue menggemuk dengan cepat (bukan berarti selama ini belum gemuk, tapi biasanya stabil gemuknya). Still deliberating, though, but I need to make decisions soon about this one.

Akhirnya dengan berat hati gue pikir gue harus meletakkan jabatan gue di kepanitiaan konser C-Choir 2009 ini (as head of music division) karena waktu gue sudah habis dialokasikan ke pekerjaan dan keluarga (dan diri sendiri, tentu saja). After years being in the field, I guess now it’s time for me to watch the game from the bleachers. Bukan berarti gue gak ikutan konsernya sih… Gue masih ikut nyanyi, walaupun sekarang latihannya bolong-bolong karena kondisi naik turun tadi, dan hopefully masih akan manggung Oktober nanti. Oktober nyanyi, November minta review, tapi dari dokter bukan penonton konser. Hehehe… Pol-polin dulu sebelom mendengar hasilnya. Bukan begitu, bukan?

Keputusan ini sepertinya cukup meringankan kegalauan, sejauh ini. Gue bisa konsen kerja dan akhirnya kmaren udah ngirim hasil kerjaan gue yang terakhir (jadi sekarang gue lagi “libur” nih ceritanya). Tiap Sabtu/Minggu gue & Victor nemenin Freya ke Tumble Tots dan ngajak dia main di Pejaten Village (dia lagi kecanduan naik… apa sih namanya itu? Yang mesin tunggangan pake koin itu loh… pokoknya dia bilangnya “Mickey-round”… antara playground, mesin bentuk Mickey, sama mesin yang bentuknya merry-go-round).

Kegiatan2 ini mulai membentuk denyut nadi kehidupan gue, sepertinya… and though once in a while gue masih jatuh terperosok, sepertinya gue udah mulai bisa melihat sinar matahari di ujung goa sebelah sana. Semoga emang matahari betulan, bukan jadi2an. Hehehe…

And well, that’s what I’m planning to do about my 6 months’ time. Spending it, not wasting it.

5 thoughts on “6 Months’ Notice

  1. Degdegan itu wajar, takut itu lebih wajar lagi. but in this situation, you cannot be ordinary. just live your life right now, enjoy and make the most of it for sure… we pray for the best for you…;D (lots and lots of hugs…)

  2. “apa yang mesti lo cemaskan? wong idup 5 menit lagi juga lo kagak tau.” kata Alkitab. lupa bagian mana.

    nggak usah buang2 energi untuk kesal, cemas atau marah; kalau ada yang lupa, yah relakan. ada yang nyusahin yah luruskan. ada yang salah, yah benarkan. ada sisa bir dikulkas…. yah, habiskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s